BUKITTINGGI, KP — Gunung Marapi yang membentang di wilayah Kabupaten Tanah Datar dan Agam kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Gunung api aktif tersebut tercatat mengalami erupsi pada Minggu (18/1) pukul 10.51 WIB dengan melontarkan kolom abu setinggi 300 meter dari puncak kawah.
Berdasarkan pantauan visual, kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang. Angin membawa material abu tersebut condong ke arah utara hingga timur laut.
Aktivitas ini merupakan kelanjutan dari rangkaian erupsi yang terjadi sepanjang Januari 2026, termasuk letusan setinggi 1,6 kilometer yang terjadi pada Rabu (14/1) lalu.
Petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Marapi, Teguh Purnomo, menjelaskan bahwa erupsi kali ini terekam jelas di seismogram dengan durasi yang cukup signifikan. Pihaknya terus memantau fluktuasi aktivitas gunung guna memberikan peringatan dini kepada masyarakat di kaki gunung.
“Erupsi terekam dengan amplitudo maksimum mencapai 7 milimeter dan durasi selama 2 menit 25 detik. Saat ini status Gunung Marapi masih berada pada Level II atau Waspada,” ujar Teguh Purnomo saat dihubungi, Minggu.
Seiring dengan status Waspada tersebut, pihak PGA Marapi mengeluarkan larangan keras bagi masyarakat maupun wisatawan untuk melakukan aktivitas apa pun dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Selain ancaman erupsi primer, potensi bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin juga menjadi perhatian utama, mengingat curah hujan yang masih tinggi di puncak gunung.
Teguh juga mengingatkan warga yang tinggal di sepanjang lembah dan aliran sungai yang berhulu di Gunung Marapi untuk tetap siaga. Risiko lahar dingin masih sangat tinggi, berkaca pada tragedi banjir lahar Mei 2024 lalu yang merenggut puluhan nyawa di wilayah sekitarnya.
“Kami mengimbau masyarakat agar waspada terhadap potensi bahaya lahar, terutama saat hujan. Selain itu, gunakan masker apabila terjadi hujan abu karena dapat membahayakan kesehatan saluran pernapasan,” tegasnya.
Gunung Marapi terus menjadi sorotan sejak erupsi besar pada Desember 2023 yang menewaskan 23 pendaki. Rentetan aktivitas vulkanik yang tidak menentu ini membuat otoritas terkait terus memperketat pengawasan di kawasan rawan bencana demi menghindari adanya korban jiwa baru. (ant)