SETIAP periode kepemimpinan Walikota Padang selalu dihadapkan pada masalah klasik, yaitu problema Pedagang Kaki Lima (PKL) yang melanggar aturan. Tak jarang terjadi konflik antara PKL dengan petugas Satpol PP yang berusaha melakukan penertiban selaku aparat penegak peraturan daerah (perda).
Dapat dipastikan, pada setiap kota di republik ini selalu ada PKL yang berusaha mencari rezeki demi sesuap nasi. Sayangnya, tak semua PKL itu patuh pada aturan. Ada yang berjualan di atas fasilitas umum seperti trotoar bahkan hingga ke badan jalan.
Bagi PKL yang ‘nakal’, biasanya mereka rela mundur ketika suasana ‘panas’. Namun ketika suasana sudah tenang, mereka kembali berjualan di tempat semula. Kondisi itulah yang seringkali membuat petugas Satpol PP jadi kewalahan. Pasalnya, setiap hari mereka harus berhadapan dengan rutinitas yang sama.
Kita tentu tak ingin wajah Kota Padang ‘berantakan’ dengan keberadaan PKL yang melanggar aturan. Apalagi, Padang adalah ibukota Provinsi Sumbar. Malu kita dengan wisatawan, kalau wajah kota ini tak beraturan.
Untuk itu, kita berharap kepada PKL agar patuh lah pada aturan yang ada. Takkan ada kenyamanan dalam berusaha kalau setiap hari harus ‘kucing-kucingan’ dengan petugas Satpol PP. Belum lagi kerugian yang timbul ketika peralatan disita sebagai barang bukti oleh Satpol PP.
Terlepas dari hal itu, sejatinya PKL kita cukup lihai dalam berusaha. Di daerah rantau sana, banyak pengusaha besar ‘urang awak’ yang merintis binisnya sebagai PKL. Berjualan di emperan toko. Mereka ditempa dengan beragam ujian dan cobaan, termasuk diuber-uber Pol PP. Mereka yang sukses atau lolos ujian, kelak akan menjadi pedagang yang bisnisnya berkembang membanggakan.
Kalau tekad pantang menyerah sudah tertanam dalam hati, percayalah pada saatnya nanti akan sukses seperti pengusaha lainnya yang dulunya nasib mereka juga susah. Yang penting, teruslah berusaha walau sebagai PKL. Akan tiba masanya nanti mereguk kesuksesan. Berdoa dan berusaha, jangan pernah pesimis. Insya Allah pintu rezeki akan dibukakan-Nya. *
