JAKARTA, KP – Debat perdana capres dan cawapres Pemilu 2024 berlangsung meriah, Selasa malam (12/12). Debat yang dipandu moderator Valerina Daniel dan Ardianto Wijaya Kusuma itu membahas tema Hukum, HAM, Pemerintahan, Pemberantasan Korupsi, dan Penguatan Demokrasi.
Publik, khususnya para pengguna jejaring sosial pun menyoroti debat capres 2024 ini. Banyak warganet mengklaim debat capres-cawapres 2024 kali ini lebih seru dibandingkan debat capres sebelumnya. Selain sosok tiga paslon yang menarik perhatian, pernyataan tiga capres saat debat juga membuat warganet gregetan.
Namun demikian, Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute (TII) Arfianto Purbolaksono menilai debat pertama itu kurang menggali lebih dalam gagasan ketiga capres. Menurutnya, debat yang berlangsung dalam durasi 120 menit itu justru terkesan seperti arena tinju.
Arfianto menilai, debat tersebut hanya seperti memfasilitasi calon presiden dan wakil presiden untuk saling jual beli serangan. Di sisi lain, para kontestan tidak menawarkan visi, misi, serta solusi konkret untuk ditawarkan kepada masyarakat pemilih.
“Dari sisi hiburan, cukup menghibur. Tetapi yang menjadi persoalan dalam debat perdana ini adalah gagasan yang disampaikan para capres terlalu mengambang dan kurang substantif,” kata Arfianto, Rabu (13/12).
Ia menjelaskan, para kandidat capres kurang menawarkan solusi konkret selama debat, khususnya dalam isu penegakan hukum, hak asasi manusia (HAM), dan demokrasi.
Ia menekankan, saat ini masyarakat perlu mendengar solusi nyata yang akan dikerjakan capres jika terpilih menjadi presiden. Hal itu diperlukan sebagai jawaban dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Dia mencontohkan pernyataan salah satu satu kandidat capres yang menyatakan ingin memperkuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan institusi lainnya. Namun, capres bersangkutan tidak menyampaikan langkah-langkah konkret untuk mewujudkan upaya penguatan KPK itu seperti apa.
Untuk itu, ia meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengevaluasi debat perdana agar lebih mampu menggali visi dan misi para pasangan calon (paslon) melalui moderator. Hal itu menurut dia menjadi tugas KPU sebagai penyelenggara pemilu.
“Evaluasi pertama harus ada penertiban kepada pendukung pasangan calon agar lebih tertib, sehingga moderator harus dibriefing agar suasana cair namun tetap tegas,” ujar Arfianto.
Hal lain yang menurut Arfianto perlu dievaluasi bahwa capres harus diingatkan untuk menyampaikan sesuatu yang konkret dan jangan sesuatu mengambang. Hal itu diperlukan agar masyarakat tidak menerka-nerka apa maksud yang disampaikan.
Pada debat sesi selanjutnya yang digelar Jumat (22/12) akan menjadi ajang para calon wakil presiden (cawapres) beradu gagasan. Mereka adalah Muhaimin Iskandar cawapres nomor urut 1, Gibran Rakabuming Raka cawapres nomor urut 2, dan Mahfud MD sebagai cawapres nomor urut 3. Adapun tema debat kedua adalah pertahanan, keamanan, geopolitik, dan hubungan internasional. (kdc)
