SIMPANG EMPAT, KP – Ratusan Kapal nelayan di Jorong Mandiangin, Nagari Katiagan, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) tidak dapat melaut dikarenakan terjadinya pendangkalan muara Sungai Batang Mandiangin.
Pendangkalan muara sungai ini sudah berlangsung semenjak enam bulan belakangan. Bahkan selama tiga bulan terakhir aktifitas ratusan nelayan di Nagari Katiagan itu lumpuh total.
Ratusan kapal yang biasanya digunakan nelayan untuk menangkap ikan, sekarang tidak bisa lagi melaut karena sudah terdampar dan harus bersandar di dermaga, bahkan sebagian kapal sudah berada di atas lumpur dasar sungai, karena keringnya air sungai akibat pendangkalan.
Salah seorang nelayan di Nagari Katiagan, Mijil mengaku, saat ini mereka hanya bisa pasrah, karena mereka tidak ada daya untuk mengatasi pendangkalan muara sungai tempat mereka menyandarkan kapal.
“Kami sudah tiga bulan ini tidak bisa lagi menangkap ikan, karena kapal kami tidak bisa keluar dari dermaga karena terjadi pendangkalan,” katanya, Kamis (5/10).
Hal serupa juga dikatakan nelayan lain Zaiful, menurutnya jika hal ini dibiarkan oleh pemerintah, ribuan masyarakat di nagari katiagan bisa mati kelaparan, karena melaut dan menangkap ikan adalah mata pencarian satu-satunya bagi mereka.
“Kami saat ini sudah sangat ketakutan dan gelisah, jika ini terus berlangsung lama, mereka takut tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena matinya mata pencaharian mereka,” kata Zaiful.
Menyikapi hal itu, Penerintah Nagari Katiagan juga sudah melakukan berbagai upaya, termasung menyampaikan kondisi yang sedang dialamai nelayan katiagan, kepada pemerintah kabupaten maupun kepada pemerintah provinsi.
Wali Nagari Katiagan, Endang Putra kepada saat melakukan peninjauan ke dermaga Muara Batang Mandiangin mengatakan, pihaknya sudah mengajukan permintaan untuk dilakukan normalisasi muara sungai kepada Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (DPSDA) Sumbar, karena wewenang sungai berada dibawah PSDA dan bahkan laporan sudah direspon dengan tinjauan lapangan, sehingga saat ini masyarakat hanya menunggu pengerjaannya.
“Kita sudah sampaikan permohonan untuk dilakukan penanganan dan normalisasi, bahkan juga sudah kita sampaikan kepada komisi empat DPRD Sumbar, Zulkenedi Said,” katanya.
Endang mengaku akan terus mengupayakan pemulihan aliran sungai dan muara. Kerena ribuan kepala keluarga bekerja sebagai nelayan dan saat ini menganggur. Pemerintah nagari khawatir jika tidak segera diupayakan, maka lebih dari 700 nelayan atau anak buah kapal (ABK) akan kehilangan pekerjaan, hingga berdampak terhadap ribuan anggota keluarga mereka.
Sementara itu, karena lama terdampar dan tidak melaut maka kondisi kapal juga akan berdampak terhadap mesin dan alat tangkap nelayan. Pasalnya, saat ini bagian bawah beberapa kapal mulai lapuk karena terendam lumpur dan jaring atau mesin kapal juga rawan rusak.
“Kalau dibiarkan lama, kerugian nelayan akan bertambah, karena sarana penunjang dan kapal tidak bisa bergerak,” ujarnya.
Menurutnya, petugas nagari akan terus melakukan pemantauan lapangan dan diskusi untuk mencarikan solusi. Kondisi ini akan menjadi bencana besar, jika kedepan kapal tidak bisa melaut, pasalnya 80 persen lebih warga berprofesi nelayan.
“Masyarakat sudah mengeluh, bahkan beberapa diantara mereka beralih profesi dengan mencari lokan untuk membantu perekonomian keluarganya,” pungkasnya. (rom)