Air PDAM Padang Keruh dan Berlumpur, DPRD Padang Desak Perbaikan Layanan

Ketua DPRD Kota Padang Muharlion

PADANG, KP — Keluhan warga terhadap air PDAM Kota Padang yang keruh dan berlumpur kian meluas. DPRD Kota Padang menyebut bakal memanggil jajaran direksi Perumda Air Minum untuk meminta penjelasan sekaligus mendorong perbaikan layanan.

Sejumlah warga di berbagai kawasan mengaku kualitas air belum layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini terjadi sejak pascabencana hidrometeorologi akhir 2025 dan hingga kini belum sepenuhnya pulih.

Enti (59), warga Lolong Belanti, mengatakan air yang mengalir ke rumahnya hampir setiap hari keruh dan mengandung lumpur. Setelah ditampung, endapan terlihat jelas di dasar bak. “Kalau didiamkan semalam, lumpurnya mengendap. Bak penampung harus sering dikuras karena banyak tanah,” ujarnya, Rabu (8/7) dikutip dari Langgam.id.

Selain kualitas, distribusi air juga kerap terganggu. Ia menyebut aliran air sering berhenti pada siang hari dan kembali mengalir pada malam hari, namun tetap dalam kondisi keruh.

Hal serupa disampaikan Mira (47), warga Gunung Pangilun. Ia mengaku air bertekanan kecil dan tidak bisa digunakan untuk mencuci pakaian. “Pernah dipakai mencuci, pakaian malah menguning. Sekarang terpaksa numpang ke rumah orang tua yang pakai air sumur,” katanya.

Di kawasan Alai Parak Kopi, Yeni (56) juga mengalami kondisi serupa. Meski air mengalir hampir setiap hari, kualitasnya dinilai tidak layak digunakan sehingga ia harus membeli air galon untuk kebutuhan memasak. “Air memang mengalir, tapi keruh. Kadang tekanannya juga kecil,” ujarnya.

Meski layanan belum optimal, warga mengaku tetap membayar tagihan bulanan antara Rp100 ribu hingga Rp400 ribu. Mereka berharap ada kompensasi atau keringanan dari PDAM.

Menanggapi keluhan tersebut, Ketua DPRD Kota Padang Muharlion menegaskan persoalan air bersih menjadi perhatian serius dan harus segera ditindaklanjuti. “Ini menjadi catatan bagi PDAM. Masyarakat tidak ingin tahu kendala internal, yang mereka butuhkan adalah layanan air bersih yang layak,” katanya.

Ia meminta PDAM turun langsung ke lapangan untuk mengetahui persoalan yang dihadapi pelanggan. DPRD juga siap memfasilitasi jika diperlukan kebijakan lanjutan, termasuk kemungkinan relaksasi tagihan. “Harus dipikirkan apakah ada diskon atau bentuk keringanan lain. Karena kondisi ini menunjukkan pelayanan belum maksimal,” ujarnya.

Sementara itu, Perumda Air Minum Kota Padang menyatakan air yang keruh tetap aman digunakan karena telah melalui proses pengolahan sesuai standar.

Terpisah Humas Perumda Air Minum, Adhie Zein, menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi kapasitas produksi Instalasi Pengolahan Air Gunung Pangilun yang belum normal pascabencana, serta tingginya kandungan lumpur pada air baku dari Sungai Batang Kuranji. “Kondisi air baku saat ini lebih banyak mengandung lumpur, sehingga proses pengolahan menjadi lebih berat,” katanya.

Di sisi lain, pakar Daerah Aliran Sungai (DAS) dan lingkungan, Isril Berd menilai penurunan kualitas air bisa disebabkan berbagai faktor, mulai dari kondisi sumber air, gangguan instalasi pengolahan, hingga kebocoran jaringan pipa.

Ia menekankan pentingnya perbaikan sistem pengolahan dan perlindungan kawasan sumber air agar kualitas air tetap terjaga. “Kalau sumber airnya sudah keruh dan instalasi belum optimal, air keruh bisa masuk ke jaringan distribusi. Selain itu, kebocoran pipa juga bisa menyebabkan sedimen masuk,” ujarnya.

Menurutnya, pengelolaan sumber air harus disertai upaya menjaga lingkungan, termasuk penghijauan di daerah tangkapan air untuk mengurangi erosi dan sedimentasi. (lgm)

Related posts

Dugaan Pelecehan di Pantai Padang Viral, Pengawasan Kawasan Wisata Disorot

Komisi IV DPRD Sumbar Bedah Ranperda Lingkungan Bersama Akademisi dan Warga Sipil 

KPK Monitoring Indikator Kota ‘Ber-Aksi’ di Payakumbuh