TANAH DATAR, KP – Pacu jawi bukan sekadar perlombaan sapi berlari di sawah berlumpur, namun merupakan bagian dari tradisi agraris masyarakat Minangkabau yang sarat makna syukur dan gotong royong.
“Pacu jawi lahir sebagai bentuk ungkapan terima kasih masyarakat usai panen. Kini, ia telah berkembang menjadi ikon pariwisata daerah dan masuk dalam kalender resmi pariwisata Tanah Datar,” sebut Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Parpora) Kabupaten Tanah Datar, Riswandi, membuka secara resmi Alek Pacu Jawi di Lembah Hijau, Nagari Sawah Tangah, Kecamatan Pariangan, Sabtu (4/10).
Dengan tema “Merajut Kembali Tali Silaturrahmi Melalui Alek Pacu Jawi di Nagari Sawah Tangah”, kegiatan ini disambut antusias masyarakat. Sorak sorai penonton mewarnai jalannya ajang pacu sapi khas Minangkabau tersebut.
Ia menjelaskan, kegiatan ini hanya digelar di empat kecamatan, yakni Sungai Tarab, Lima Kaum, Pariangan, dan Rambatan. Di wilayah-wilayah inilah denyut budaya Minangkabau masih bertahan di tengah arus modernitas.
“Pacu jawi adalah aset budaya yang harus dijaga. Bukan sekadar tontonan, tapi juga identitas dan kebanggaan. Generasi muda harus tahu bahwa di balik lumpur ini ada nilai gotong royong dan rasa syukur,” ujar Riswandi.
Ia berharap, kegiatan ini dapat memperkuat silaturrahmi antarwarga serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan sektor pariwisata di sekitar lokasi.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut anggota DPRD Tanah Datar dari Fraksi PKB Dapil III Yonnarlis, Walinagari Sawah Tangah, Ketua BPRN, Ketua KAN, mahasiswa KKN UIN Mahmud Yunus Batusangkar, serta tokoh masyarakat lainnya. (yon)