SOLOK, KP – Wakil Wali Kota Solok Ramadhani Kirana Putra memimpin apel Gerakan Aksi Cegah Stunting di halaman balaikota, Jumat (27/10). Acara tersebut dihadiri seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemko Solok.
Wawako Ramadhani menyampaikan, upaya pencegahan stunting yang dilakukan selama 10 tahun belum memperlihatkan perubahan yang signifikan, menandakan perlunya penanganan lebih intensif. Bahkan, berdasarkan hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukkan sekitar 7 juta balita atau 21,6 persen mengalami stunting.
Di tingkat Sumbar, angka stunting mencapai 25,2 persen sementara di Kota Solok prevalensi stunting pada tahun 2021 sebesar 18,5 persen dan pada tahun 2022 sebesar 18,1 persen. Sedangkan target prevalensi stunting tahun 2024 adalah 14 persen. Untuk mengejar target itu, kata wawako, perlu kerja keras dan kolaborasi dari elemen pemerintahan dan masyarakat.
“Masalah gizi lain yang perlu jadi perhatian kita bersama adalah anemia pada ibu hamil (48,9 persen), Berat Bayi Lahir Rendah (6,2 persen), balita kurus atau wasting (10,2 persen), dan anemia pada balita,” papar Wawako Ramadhani.
Ia mengajak seluruh OPD untuk aktif terlibat dalam aksi cegah stunting, dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Upaya tersebut mencakup perbaikan stunting sebelum usia 2 tahun, pemberian ASI pada bayi, peningkatan masalah menyusui, pemberian olahan protein hewani pada MPASI, imunisasi rutin, pemantauan tumbuh kembang anak, praktik hidup bersih dan sehat, serta penggunaan jamban sehat.
Wawako berharap setiap OPD dapat berkontribusi dalam kegiatan yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan dan pencegahan stunting di Kota Solok. (van)