Longsor dan Banjir di Sumbar, LBH Padang Sebut Bencana Terencana Akibat Pertambangan

DAMPAK bencana longsor yang terjadi di Jalan Nasional Sumbar- Riau, membuat badan jalan sepanjang 50 meter di ruas Nagari Ulu Aia, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, terban membelah aspal jalan hingga kedalaman 1 meter.

PADANG, KP – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang menilai bencana longsor yang terjadi di Jalan Nasional Sumbar- Riau, di Pangkalan Kabupaten Limapuluh Kota merupakan bencana yang terencana.

Hal itu dikatakan Koordinator Advokasi LBH Padang, Diki Rafiqi kepada wartawan baru – baru ini.

Diketahui, longsor di Pangkalan mengakibatkan jalan putus, pada Selasa (26/12) lalu. Longsor terjadi beberapa kali dan diberlakukan akses jalan buka tutup.

Begitu juga dengan Jalan nasional Sumbar-Kerinci Jambi, di Nagari Lolo, Kabupaten Solok yang mengalami longsor pada Minggu (31/12).

Hal ini dikarenakan di kedua lokasi longsor tersebut ditemukan pertambangan-pertambangan mineral logam yang dinilai merusak ruang ekologis sekitar.

“Kami melihat bencana yang ada di jalan nasional yang menghubungkan antara Sumatera Barat dengan Pekanbaru via Pangkalan dan Sumatera Barat-Jambi di Kabupaten Solok, ini sudah diceritakan semenjak awal dan bencana ini tinggal menunggu waktu saja,” ujar Diki Rafiqi.

Dikatakannya, di lokasi kedua bencana longsor tersebut tersebut banyak perizinan tambang. Dari peta ESDM pada 29 Desember 2023, yang dipaparkan Diki, di Jalan Nasional Sumbar-Riau terdapat delapan perusahan pertambangan di sekitar kawasan rawan longsor di Pangkalan, Limapuluh Kota.

Sementara itu berdasarkan peta ESDM one may pada 2 Januari 2024, terdapat lima pertambangan di Jalan Nasional Sumatera Barat- Jambi, via Solok.

“Oleh karena itu, kami menilai bahwa bencana yang terjadi sebulan ini adalah sebuah bencana yang sudah terencana, terencana karena bencananya itu sudah disampaikan sebelumnya, tapi perizinan pertambangan masih ada di kawasan tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, seharusnya pemerintah memikirkan mitigasi bencana. Namun bukannya mitigasi bencana, malahan memperburuk ruang ekologi di kawasan-kawasan tersebut.

“Apa yang terjadi hari ini ya, jalan terputus dan dampak pada perekonomian Sumbar, termasuk mendistribusikan hortikultura ke Provinsi Riau tidak bisa tercapai, begitu juga dengan Sumbar ke Provinsi Jambi,” tambahnya.

Ditambahkannya, curah hujan memang tinggi, namun kalau daya tampung ekologis itu rusak, bencana tentu tidak bisa dihindari. (eka)

Related posts

Gubernur Sumbar Geram, Sindir Abu Janda dengan Ungkapan Minang

DPRD Sumbar Kawal Rehabilitasi Jalan Strategis di Pasaman-Pasbar

Tangkal Degradasi Moral, Gubernur Mahyeldi Luncurkan Sistem Pendidikan Berbasis Surau