Menguak Kejayaan Peradaban 4.000 SM di Sumbar

Ketua DPRD Sumbar Supardi, saat membuka Maek Festival 2024, di Jorong Koto Tangah, Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota, Rabu malam (17/7).

LIMAPULUH KOTA, KP – Maek Festival 2024 berlangsung meriah. Ribuan masyarakat datang berbondong-bondong menyaksikan berbagai atraksi kesenian yang disuguhkan pengisi acara. Festival arkeologi terbesar di Sumbar itu dibuka langsung oleh Ketua DPRD Sumbar Supardi sebagai penggagas acara, di lapangan bola kaki Jorong Koto Tangah Nagari Maek, Kabupaten Limapuluh Kota, Rabu (17/7). Festival ini akan hingga 20 Juli 2024.

Supardi mengatakan, Maek sebagai ‘negeri seribu menhir’ harus dikenal luas sebagai daerah peradaban tertua di Indonesia. Ia yakin semua orang setuju akan hal tersebut.

“Digagasnya Maek Festival 2024 merupakan upaya tulus untuk memajukan potensi daerah, tidak ada unsur apapun,” kata Supardi.

Menurutnya, untuk mendapatkan pengakuan Maek sebagai warisan dunia telah melalui perjalanan yang cukup panjang, mulai dari Focus Discussion Grub (FGD) hingga meneliti fosil yang ditemukan di Maek.

“Kita semua harus mengetahui tahun berapa pastinya keberadaan peradaban Maek tersebut,” kata Supardi.

Dia menjelaskan, metode penelitian fosil yang dilakukan di Australia yaitu carbon dating. Ada 13 tahap untuk menentukan usia fosil yang diteliti, namun untuk Maek telah berada pada tahap akhir. Hampir dipastikan fosil itu berumur 4.000 tahun sebelum masehi.

“Harusnya pada pembukaan Festival Maek ini, hasil carbon dating telah keluar, namun harus ditunggu bersama-sama. Bayangkan, 4.000 tahun sebelum masehi, belum ada NKRI dan Ranah Minang. Namun Maek telah memiliki peradaban yang maju. Sungguh situs sejarah yang sangat membanggakan Sumbar,” katanya.

Tidak hanya menhir, di Nagari Maek juga terdapat bekas kawah gunung api yang meletus jauh sebelum terbentuknya Danau Toba. Hal itu ditemukan saat Dinas Kebudayaan Sumbar mengadakan penelitian bersama UNP pada 2005 silam. Di sini juga ditemukan bekas pelabuhan aktif. Oleh sebab itu, kata Supardi, Maek harus menjadi tempat pariwisata khusus dengan pangsa pasar yang berbeda (Arkeolog-red).

Ia berpesan kepada masyarakat Maek agar memanfaatkan potensi yang ada di nagari itu untuk dinikmati oleh pengunjung. Masyarakat juga diminta membangun narasi kepada pengunjung agar tertarik datang serta tinggal lama di Nagari Maek yang punya sekitar 1.200 menhir tersebut.

“Artinya, kita harus ramah terhadap tamu-tamu yang datang berkunjung. Paling penting sekali, kita jangan sampai kehilangan jati diri sebagai masyarakat yang berbudaya dan beradab. Sebab, itulah yang akan kita ‘jual’ kepada mereka,” tuturnya.

Turut hadir pada kesempatan itu, Gubernur Sumbar diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Jeffrinal Arifin, Ketua DPRD Limapuluh Kota Deni Asra, Pj. Wali Kota Payakumbuh Suprayitno, unsur forkopimda, wali nagari se-Kecamatan Bukik Barisan, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan tamu undangan lainnya.

Sementara, Bupati Limapuluh Kota Safaruddin mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih kepada Ketua DPRD Sumbar yang telah menginisiasi Maek Festival 2024 bersama Dinas Kebudayaan Sumbar.

“Festival Maek 2024 melampaui ekspektasi. Saya tidak menyangka akan semeriah ini. Kita mengapresiasi Pemprov Sumbar dan Ketua DPRD Sumbar serta seluruh yang terlibat dalam kegiatan ini termasuk seleruh masyarakat Maek,” ujar Bupati Safaruddin.

Bupati menyebut, Nagari Maek memiliki potensi pariwasata khusus yang harus terus dikembangkan. Bahkan, kawasan situs bersejarah menhir Maek telah diakui di tingkat nasional dengan menjadi juara III Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2023 kategori Situs Bersejarah.

“Kita sama-sama perjuangkan Maek menjadi pusat arkeolog dunia. Salah satunya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur. Kita akan mengalokasi anggaran untuk perbaikan jalan menuju Maek dan pembangunan infrastruktur pendukung lainnya,” kata Bupati Safaruddin. (adv)

 

Related posts

Pemko Padang Gandeng Bank Mandiri Perkuat Digitalisasi Keuangan Daerah

Padang Ditunjuk Tuan Rumah Seminar Kebencanaan APEKSI

Dasawisma Aloe Vera 7 Wakili Padang di Lomba Tingkat Sumbar