LIMAPULUH KOTA, KP – Sejumlah pakar arkeolog dunia yang berasal dari Mesir, Jepang, Australia, Jerman dan India akan datang pada perhelatan Festival Maek di Kabupaten Limapuluh Kota, pada 17-20 Juli 2024 mendatang. Hal tersebut disampaikan Ketua DPRD Sumbar Supardi, saat sosialisasi Festival Maek di Kantor DPRD Sumbar, Selasa (9/7).
“Pakar-pakar arkeolog dunia dari Mesir, Jepang, Australia, Jerman dan India akan hadir pada Festival Maek ini,” ungkap Supardi.
Ia menjelaskan, kawasan Seribu Menhir yang ada di Maek Kabupaten Limapuluh Kota masih banyak menyimpan misteri peradaban yang belum terungkap hingga hari ini.
Ia menilai, Maek perlu mendapat perhatian khusus dan memfasilitasi para peneliti untuk mengkaji sejarah peradaban yang terdapat di kawasan Maek.
“Banyak misteri yang belum terungkap di Maek. ini adalah sebuah peradaban tua, dan bisa jadi nanti sejarah peradaban dunia ini akan bergeser ke Maek. Cerita Maek ini memang sudah lama didengar oleh orang-orang luar, tapi pemerintah kita tidak pernah serius mengurus Maek ini,” ucapnya.
Supardi menerangkan, perkiraan tengkorak manusia yang ditemukan di Maek berusia 4000 tahun sebelum Masehi. Menurutnya, 4000 tahun yang lalu sudah ada peradaban besar di Maek ditengarai dengan ribuan menhir yang ada di kawasan itu.
“Saya yakin tangan dingin Dinas Kebudayaan bisa membuat Festival Maek ini membuka cakrawala kita semua tentang sejarah peradaban Maek,” pungkasnya.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Zefrinal Arifin menyebut, Festival Maek nantinya akan dirancang sebaik mungkin mulai dari pra festival, saat festival dan pasca festival.
Zefrinal mengatakan, kegiatan itu juga akan mengundang tokoh-tokoh dunia dan nantinya akan dipertemukan dengan masyarakat untuk memperkenalkan dan merawat situs peradaban dunia.
“Nanti kita adakan diskusi dengan tokoh dunia dan kita adakan pertemuan dengan masyarakat termasuk penampilan Anak Nagari Maek yang sudah dilatih oleh pelatih dari Jerman,” ucapnya.
Ia berharap dengan adanya kegiatan tersebut bisa mendukung pariwisata daerah khususnya di Limapuluh Kota.
“Sebetulnya tidak boleh semua orang masuk di kawasan itu. Tapi kita sudah sediakan pagarnya dari Balai Pelestarian Cagar Budaya kelas III dan jalur masuknya sudah disediakan,” pungkasnya. (ski/*)