BUKITTINGGI, KP – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri dari Polda Sumatera Barat bersama tim forensik Rumah Sakit Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi memastikan berhasil mengidentifikasi seluruh jenazah korban erupsi Gunung Marapi.
Kabiddokkes Polda Sumatera Barat, Lisda Cancer mengungkap, identifikasi jenazah korban dilakukan dengan pencocokan sidik jari dan data medis lain serta pengenalan ciri-ciri khas korban.
Lisda memastikan seluruh korban juga telah dijemput dan diantarkan ke keluarga masing-masing hingga tidak ada lagi jenazah yang berada di kamar jenazah.
“Semua sudah dijemput keluarganya. Selain 23 korban meninggal, saat ini ada 10 korban yang dirawat di tiga rumah sakit,” kata Lisda.
Ia menyebut, tiga korban selamat dirawat di RSAM Bukittinggi, empat korban di RSUD Padang Panjang, dua orang di Rumah Sakit M. Djamil Padang, dan satu lainnya di RS Bhayangkara Padang.
Tim DVI membantah informasi yang beredar di masyarakat tentang adanya korban erupsi berumur tujuh tahun yang ikut dalam pendakian.
“Tidak, tim tidak menemukan adanya korban berusia tujuh tahun dalam proses identifikasi,” kata Lisda.
Pelajaran Pahit dari Erupsi Gunung Marapi
Jatuhnya 23 korban jiwa akibat erupsi Gunung Marapi yang terjadi tiba-tiba, Minggu lalu (3/12) membuktikan bahwa prosedur dan rambu-rambu keselamatan ‘telah diabaikan’.
Pengamat kebencanaan dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurna mengatakan, korban tewas semestinya bisa dicegah andai rekomendasi untuk tidak mendekati kawah dalam radius tiga kilometer dipatuhi.
“Kalau dilihat ada pendaki yang sampai merapat dekat ke kawah, maka SOP (standard operational procedure_ tersebut diabaikan oleh pendaki dan pihak-pihak yang seharusnya memberi peringatan untuk itu,” kata Eko, dikutip dari BBC News Indonesia, Kamis (7/12).
Gunung Marapi telah berstatus Waspada atau level II sejak 2011 silam. Aktivitas erupsi Gunung Marapi sempat meningkat pada 7 Januari 2023, sehingga pihak berwenang menutup sementara jalur pendakian. Akan tetapi, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar membuka kembali jalur pendakian ke Marapi pada 24 Juli 2023.
Plh. Kepala BKSDA Sumbar Dian Indriati mengatakan, pihaknya memberikan izin pendakian Gunung Marapi karena adanya kesepakatan dengan semua pihak terkait, termasuk pemda.
Selain itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) setiap bulan sejak beberapa tahun terakhir rutin mengirimkan informasi status dan jarak aman Gunung Marapi adalah 3 kilometer dari puncak. Informasi itu dikirim dua kali dalam sebulan. Terakhir dikirimkan pada 18 Oktober 2023 dan 1 Desember 2023. PVMBG juga mencatat tidak ada gempa vulkanik atau erupsi di Marapi selama dua pekan sebelum kejadian.
Sejak izin pendakian dikeluarkan pada Juli 2023, tidak tercatat aktivitas signifikan pada Gunung Marapi. Bahkan, pada 3 Desember 2023, sejumlah pendaki yang selamat menyatakan ‘tidak ada tanda-tanda erupsi’.
Meski demikian, pakar vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurachman, mengatakan bahwa aktivitas vulkanik seperti yang terjadi di Gunung Marapi ‘sangat sulit diprediksi’ dan sulit dideteksi dini.
Bencana kali ini telah menunjukkan bahwa pengabaian prosedur keselamatan dapat berakibat fatal ketika bersanding dengan gunung yang berkarakter seperti Marapi. Hal serupa berpeluang terjadi di gunung-gunung berapi lainnya di Indonesia.
MENGAPA BANYAK PENDAKI BERADA DI AREA SEKITAR KAWAH?
Dalam proses evakuasi, sejumlah korban ditemukan di titik-titik yang masuk dalam kawasan paling rawan bencana di Marapi, yang semestinya terlarang didatangi. Namun nyatanya, banyak pendaki sampai ke puncak dan kawah, bahkan bermalam di sekitarnya.
Salah satu korban selamat, Irvanda Mulya, mengaku melihat rambu-rambu jarak aman, imbauan untuk berhati-hati, serta jalur evakuasi jika terjadi erupsi. Namun, katanya, tidak ada petugas di posko pendakian yang memperingatkan bahwa mereka dilarang mendekat dalam radius tiga kilometer dari puncak.
Pada Sabtu malam (2/12), mereka bahkan berkemah di sekitar Tugu Abel, yang jika ditarik garis lurus di peta, hanya berjarak sekitar 600 meter dari kawah. Tugu Abel merupakan monumen yang dibangun sebagai peringatan atas tewasnya seorang pendaki bernama Abel Tasman akibat erupsi Marapi pada 5 Juli 1992.
Keterangan serupa juga disampaikan oleh Muhammad Iqbal, salah satu pendaki yang sempat berkunjung ke kawah Marapi, sekitar lima jam sebelum erupsi. Iqbal bersama teman-temannya mendaki ke Marapi pada Sabtu (2/12).
“Saat kami daftar itu enggak ada secara langsung dikasih tahu (risiko erupsi Marapi). Tapi enggak tahu juga di website BKSDA ada atau enggak,” kata Iqbal.
Iqbal mengetahui bahwa status Gunung Marapi ada pada level Waspada, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika gunung berapi berstatus seperti ini. Sepanjang perjalanan naik, Iqbal mengatakan ada rambu-rambu dan petunjuk di jalur pendakian sebelum memasuki kawasan puncak. Begitu pula dengan rambu jalur evakuasi. Namun menurutnya, rambu-rambu yang memperingatkan soal risiko erupsi minim dan kurang jelas. Begitu memasuki kawasan puncak, cadas, dan kawah Marapi, tidak ada rambu atau plang larangan.
Iqbal bahkan sempat menghabiskan waktu selama 30 menit di pinggir kawah, tepatnya pada Minggu (3/12) sekitar pukul 08.30 WIB – 09.00 WIB. Itu adalah kali pertama dia melihat langsung kawah gunung berapi.
“Tiba-tiba ada suara air mendidih gitu, agak jelas suaranya sama aku,” kata Iqbal. Namun saat itu, dia tidak tahu apakah suara itu tergolong normal atau tidak.
Setelah itu, Iqbal dan teman-temannya pun turun dari kawasan puncak. Ketika perjalanan turun, dia sempat bertemu dengan rombongan pendaki lain yang hendak naik ke puncak.
Ketika dia sampai di pos empat, sekitar pukul 12.00 WIB, dia mendengar suara monyet gunung seperti berteriak kencang ramai-ramai. Sumber suara monyet-monyet gunung itu berasal dari atas, namun terdengar hingga pos empat. Iqbal masih tidak punya firasat apa-apa. Dia melanjutkan perjalanan turun.
Begitu tiba di pos satu, yang sudah dekat dengan area perkebunan warga, terdengar bunyi gemuruh dan dentuman.
“Kami lihat ibu-ibu petani lari-lari sambil teriak-teriak gitu, ‘lari nak, lari, gunung api meletus’,” kenang Iqbal.
“Dibilang lah sama ibu itu, enggak pernah Marapi meletus sampai sebesar ini. Kalau aku telat (turun) beberapa jam, pasti ikut kena imbas juga,” kata Iqbal.
Sebelum bencana ini terjadi pun, banyak pendaki yang mencapai bahkan berkemah di kawasan sekitar puncak dan kawah Marapi. Hal itu tergambar dari foto-foto dan video-video yang diunggah di media sosial serta Google Maps. Beberapa foto bahkan memperlihatkan area puncak ramai oleh tenda-tenda para pendaki.
Terkait diabaikannya rekomendasi jarak aman ini, Plh. Kepala BKSDA Sumbar Dian Indriati, mengatakan para petugas pendamping di setiap pintu masuk telah memberi arahan kepada para pendaki. Para pendaki juga wajib mendaftar secara daring untuk mendapatkan Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi (Simaksi). Menurut Dian, pada proses itu juga tertera SOP dan aturan pendakian.
Papan peringatan untuk tidak mendekati kawah, serta peringatan bahwa radius tiga kilometer ‘sangat berbahaya’ juga terpasang. Namun peringatan itu tampaknya diabaikan oleh para pendaki.
“Dengan adanya papan peringatan dan larangan itu sudah semestinya menjadi imbauan bagi mereka. Dan ini selalu disampaikan oleh petugas kami untuk berhati-hati, jaga keselamatan, dan jangan mendekati kawah,” sambung Dian. (bbc)