LIMAPULUH KOTA, KP – Naiknya harga jual pakan ternak itik yang berkisar Rp450 hingga Rp500 ribu per kilogram ukuran 50 kilogram sangat dirasakan dampaknya oleh peternak yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota, bahkan akibat kondisi itu peternak memilih “tiarap” dari beternak itik petelur dan berpindah beternak ayam kampung.
Naiknya harga pakan ternak itu tersebut telah dirasakan peternak sejak 6 bulan terakhir, karena tak lagi kuat untuk membeli pakan pabrikan itu, beternak ayam kampung menjadi pilihan terbaik.
Selain pakan yang mudah didapat, untuk beternak ayam kampung tidak terlalu sulit apalagi harga jual ayam kampung dan persaingan relatif kecil, sehingga beternak tersebut lebih menjanjikan saat ini.
Hal itu diungkapkan Rido Muldi Putra (32 tahun) peternak di Jorong Kobun, Nagari Sarilamak Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. Bapak empat orang putra itu kini telah beternak ratusan ekor ayam kampung yang saat ini berusia 4 minggu.
“Karena harga pakan yang terus naik, saya tak sanggup lagi memenuhi kebutuhan, sehingga beberapa waktu lalu ratusan ekor itik petelur yang dipeliharanya terpaksa saya jual dan kini diganti dengan beternak ayam kampung,” ucapnya Minggu sore (18/6).
Ia juga menambahkan, selain pakan untuk ayam mudah didapat, beternak ayam kampung tidak terlalu sulit apalagi harga jual ayam kampung dan persaingan relatif kecil, sehingga beternak tersebut lebih menjanjikan saat ini.
“Untuk memenuhi pakan ayam kampung tidak terlalu sulit dan biaya tidak semahal pakan pabrikan, untuk ayam kampung bisa diberikan dedak dicampur jagung dana bahan lainnya. Selain itu karena belum banyak masyarakat yang beternak ayam kampung sehingga harga jual lebih tinggi dan menjanjikan,” tambahnya.
Saat ini menurut pria yang sebelumnya juga melakukan penetas telur itik itu, harga beli bibit ayam kampung Rp800 ribu satu kotak dengan jumlah mencapai 100 ekor.
Kendati ‘tiarap’ sementara waktu dari beternak itik petelur, ia berharap kedepannya Pemerintah bisa lebih memperhatikan peternak kecil, terutama terkait harga pakan yang terus naik, sehingga peternak itik yang masih ada tetap bisa bertahan dan bangkit, terutama pasca terdampak Pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. (dst)