PADANG, KP – Penertiban yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Kota Padang tidak sepenuhnya mengurangi keberadaan pengemis berkostum badut, anak jalanan, manusia silver, dan ‘Pak Ogah’. Malah, keberadaan mereka semakin marak dan menimbulkan keresahan bagi pengguna jalan.
Seperti yang dialami oleh seorang warga Kota Padang, Dodo (56 tahun), Kamis sore (16/11). Saat berhenti di perempatan lampu merah Jalan Khatib Sulaiman, ia didatangi oleh pengemis berkostum badut dan meminta uang. Namun, ketika tidak diberi uang, badut tersebut mengeluarkan kata-kata kasar, bahkan melakukan tindakan merusak dengan memukul mobil yang dikendarai Dodo.
Saat tindakannya itu ditegur Dodo, malah datang seorang perempuan yang disinyalir istri pengemis berkostum badut itu. Ia lalu mengeluarkan kalimat caci maki sambil melakukan perbuatan tidak senonoh, yakni — maaf– menyunggingkan pantatnya.
Situasi itu sempat menimbulkan kemacetan di ruas jalan utama Kota Padang tersebut. Sejumlah pengendara tampak berhenti menyaksikan perilaku pengemis berkostum badut itu yang telah mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum (trantibum).
Hal ini menimbulkan kekhawatiran yang lebih besar, terutama karena Padang merupakan destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keresahan masyarakat terhadap keberadaan pengemis dan anak jalanan semakin memuncak. TIdak hanya di pusat kota, keberadaan mereka juga telah tersebar hingga ke kawasan pnggiran, seperti di jalan Bypass Lubuk Minturun.
Sebagai respons terhadap hal ini, sejumlah masyarakat mendesak Satpol PP bertindak lebih tegas lagi dalam menegakkan Peraturan Daerah (Perda) terkait trantibum sehingga membuat jera para pembuat keresahan tersebut.
“Kami menuntut langkah konkret agar keamanan dan kenyamanan Kota Padang tetap terjaga, apalagi kota ini merupakan etalase Provinsi Sumbar dan destinasi wisata andalan,” kata salah seorang pengguna kendaraan lainnya, Yunaidi. (nda)