Pembangunan berbagai kebutuhan masyarakat di pedesaan Sumbar terus berkelanjutan. Kalau dananya berasal dari pemerintah, maka pembangunannya disesuaikan dengan keuangan yang tersedia. Begitu juga pembangunan yang dananya bersumber dari swadaya masyarakat, dilakukan secara perlahan-lahan tapi pasti.
Pada banyak desa, kampung, dan nagari di Sumbar bisa disaksikan hasil-hasil pembangunan swadaya masyarakat dengan panitia kerja rata-rata tokoh masyarakat yang dipercaya. Nilainya beragam. Kualitasnya pun membanggakan. Umumnya, yang dibangun adalah masjid, musala, hingga lembaga pendidikan Islam. Bahkan, jalan desa juga banyak yang dibangun dengan swadaya.
Karena penggerak pembangunan swadaya di pedesaan adalah tokoh masyarakat, seperti ninik mamak, alim ulama, pemuda, dan kalangan cerdik pandai, maka perencanaan kerja dimusyawarahkan secara bersama-sama. Sehingga, semua tahapan kerja merupakan hasil kesepakatan bersama. Dengan demikian terjauh pula dari curiga-mencurigai.
Daerah yang menonjol beragam pembangunan secara swadaya menandakan warganya sudah begitu maju. Ada juga sebagian kecil pedesaan agak lamban gerak pembangunannya dan bisa jadi kondisi itu berkaitan erat dengan keadaan warganya.
Mungkin saja tokoh masyarakat setempat tak begitu tampil ke permukaan. Tak tertutup kemungkinan masyarakat enggan berswadaya karena ada ‘sesuatu yang tidak beres’ pada aparatur desa tersebut.
Bagaimanapun juga, pembangunan kerakyatan yang telah berlangsung sejak dulunya di Sumbar pertanda warga daerah ini saiyo-sakato’. Sebaliknya, kalau ada pembangunan yang ‘mangkrak’ di daerah ini bisa jadi sebagai pertanda bahwa ada yang tidak beres. Begitulah. *