Di Kabupaten Limapuluh Kota sangat banyak kolam ikan terlantar. Mungkin jumlahnya ribuan. Rata-rata di tiap kecamatan luar biasa banyaknya kolam ikan yang terlantar tersebut. Paling menonjol jumlah kolam ikan tak produktif di antaranya di Kecamatan Guguk, Suliki, Gunung Mas, dan kecamatan lainnya.
Khusus di Kecamatan Guguk, tiap rumah penduduk biasanya punya kolam permanen. Bahkan, ada rumah yang punya kolam lebih dari satu. Kolam ikan itu lokasinya berdekatan dengan rumah agar mudah perawatannya.
Banyaknya penduduk yang membangun kolam permanen dekat rumah berdampak terhadap kolam-kolam tradisional yang berada di tempat kerendahan karena tak lagi diperhatikan. Akibatnya, kolam itu merimba dipenuhi tanaman air tak bermanfaat. Lebih memprihatinkan lagi, kebanyakan kolam ikan tradisional tersebut ibarat barang rongsokan.
Kolam ikan permanen dekat rumah memang aman dari beragam gangguan. ‘Si tangan panjang’ yentunya was-was jika mencuri ikan yang kolamnya dekat rumah. Cepat diketahui pemilik kalau ada bunyi aneh ‘gareseh-peseh’. Biasanya, ikan yang jadi sasaran maling adalah gurami atau disebut juga ikan kaluih.
Dengan banyaknya pengembangan kolam ikan dekat rumah, maka kolam-kolam yang sudah ditinggalkan perlu jadi perhatian oleh pemuka masyarakat setempat. Sebutlah di kawasan Jorong Padang Japang, Ampang Gadang, dan sekitarnya, ada lembaga pendidikan Islam Darul Funun, tsanawiyah, aliyah, dan tarbiyah. Bisa diberdayakan santrinya dalam usaha ekonomi produktif memelihara kolam ikan gurami atau ikan jenis lainnya. Insya Allah berhasil. Satu kolam ikan dipelihara 4-5 santri. Dibimbing pembina, guru, dan tokoh masyarakat setempat.
Kalau ide kreatif ini dapat sambutan dari pihak sekolah, lembaga pemerintahan, bersama tokoh masyarakat, kita optimis program mulia ini akan berhasil dilaksanakan dan membuahkan kesejahteraan.
Yang jelas, banyaknya kolam ikan terlantar di Limapuluh Kota adalah tantangan yang perlu dicarikan pemecahan masalahnya. Salah satu ide adalah memanfaatkan tenaga muda kreatif dari kalangan pelajar dan santri. Bisa jadi ada usul lain. Namun kalau tak ada sama sekali muncul ide kreatif, pertanda hidup mubazir masih belum mampu kita habisi secara berangsur. *