Harau Jadi Desa Jejaring ASEAN

H. Adi Bermasa (Wartawan Senior)

ALHAMDULILLAH, Limapuluh Kota sekarang sudah ‘go internasional’. Hebat dan membanggakan. Ini berkat perkembangan Nagari Harau yang berada di Kecamatan Sarilamak begitu pesat dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan sudah berkaliber ASEAN. Begitu dikatakan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Abdul Halim, saat meresmikan Homestay Pemerintahan Nagari Harau, seperti diberitakan KORAN PADANG terbitan Senin (22/5).

Kita bangga dengan berhasilnya Nagari Harau masuk dalam gelanggang ASEAN dengan ciri khas desa wisata, desa digital, dan Desa One Village One Product (OVOP).

Kalau menteri yang memuji kehebatan Harau, tentu kita pun harus mengakui bahwa Harau benar-benar hebat. Kalibernya sudah mendunia, ASEAN. Sesuatu yang sangat pantas kita syukuri bersama. Namun, hal yang membanggakan ini jangan ada pula yang menodai.

Jujur saja, kita sangat berharap semakin banyak prestasi yang diraih nagari-nagari di Sumbar. Kita sudah bosan dengan suku kata ‘tertinggal’ yang begitu akrab dengan nagari yang lamban peningkatan kesejahteraan rakyatnya maupun gerak pembangunan kawasannya.

Keberhasilan Harau ini sangat pantas jadi precontohan bagi pemerintahan nagari lain di Sumbar. Jangan segan-segan mengamati dan meniru keistimewaan Harau. Kenapa Pak Walinagari bersama rakyatnya mampu mencengangkan ASEAN? Hal ini harus jadi pelajaran bagi daerah lain.

Bukan tidak mungkin banyak nagari di Sumbar yang juga bisa diunggulkan sektor ekonomi produktifnya. Misalnya Sungai Puar sebagai nagari ‘pandai besi’. Begitu juga Kubang Limapuluh Kota dengan tenunan rakyatnya. Koto Gadang Agam dengan sulamannya berkaliber internasional. Yang jelas, selain sektor pariwisata, Sumbar juga kaya dengan beragam usaha ekonomi produktif yang membanggakan.

Masyarakat daerah ini sejak dulunya sudah terkenal dengan kemandiriannya di tingkat nagari atau pedesaan. Bahkan, perkampungan yang warganya produktif dalam beragam usaha rata-rata kehidupannya sejahtera turun-temurun. Bahkan, ‘satu rumah satu sarjana’ sudah ada sejak dulunya.  Begitulah. *

Related posts

Pacu Kudo Duku Banyak

Nuzulul Qur’an dan Rekonstruksi Peradaban : Menghidupkan Kembali Etika Wahyu di Era Disrupsi

Luka pada Wajah Pendidikan Kita