Sekolah Rusak Diterjang Banjir, 259 Siswa Belajar Bergiliran di Zona Rawan

FOTO udara memperlihatkan kondisi kompleks bangunan SDN 10 Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, yang berada tepat di bibir tebing yang amblas akibat terjangan banjir bandang pada akhir November lalu.

PADANG, KP — Sebanyak 259 siswa SDN 10 Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, terpaksa menjalani sistem belajar bergantian setelah dua ruang utama rusak parah akibat banjir bandang yang terjadi pada akhir November lalu.

Dua ruangan yang tidak lagi dapat difungsikan yakni ruang kelas dua dan ruang guru. Kondisi ini memaksa pihak sekolah membagi jadwal belajar dalam beberapa sif agar proses pembelajaran tetap berjalan di tengah keterbatasan.

Namun persoalan tidak berhenti pada kekurangan ruang. Aktivitas belajar mengajar kini berlangsung di lingkungan yang belum sepenuhnya aman. Area depan sekolah masih menyisakan dampak banjir, dengan aliran sungai yang berada dekat bangunan serta potensi longsor yang mengancam.

Dikutip dari TribunPadang.com, Kamis (2/7), akses menuju sekolah juga mengalami kerusakan serius. Jalan menuju gerbang terlihat amblas dan retak akibat terjangan banjir, menyulitkan mobilitas siswa dan guru.

Kepala SDN 10 Lambung Bukit, Haryenti, mengungkapkan kondisi tersebut membuat tenaga pendidik harus bekerja dengan fasilitas terbatas, terutama karena ruang guru turut terdampak.

Meski berada dalam kondisi serba terbatas, kepercayaan masyarakat terhadap sekolah ini tidak surut. Bahkan, jumlah pendaftar pada tahun ajaran baru justru meningkat melebihi kapasitas yang tersedia.

“Hingga saat ini pendaftar meningkat. Orang tua tetap percaya sekolah ini akan diperbaiki,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah meningkatkan pengawasan di sejumlah titik rawan, khususnya di area yang berpotensi longsor. Jika hujan turun dengan intensitas tinggi, siswa akan dipulangkan lebih awal demi keselamatan.

Sementara itu, solusi jangka panjang masih menunggu kejelasan. Pemerintah Kota Padang tengah mengkaji rencana relokasi sekolah ke lokasi yang lebih aman. Namun, keterbatasan lahan milik pemerintah di sekitar kawasan menjadi kendala utama.

Opsi pembelian lahan milik warga kini menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan untuk memastikan kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan aman dan layak bagi para siswa. (trb)

Related posts

MAN 3 Padang Gelar Seleksi Kelas Takhassus Angkatan X

Tekan Persoalan Sosial, Sekolah Keluarga Diluncurkan di Bukittinggi

Bupati Hendrajoni Evaluasi Total Kepala Sekolah