PADANG, KP – Sejumlah potongan tubuh yang diduga bagian dari mayat termutilasi yang ditemukan di Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, ditemukan pada lokasi terpisah. Potongan kepala dan tangan ditemukan di kawasan Tempat Pelalangan Ikan (TPI) Padang Sarai, Koto Tangah, Kota Padang, Rabu pagi (18/6).
Bagian kepala tersebut pertama kali ditemukan sekitar pukul 07.00 WIB oleh seorang penambang pasir. Potongan itu tersapu ombak dan terdampar di bibir pantai, terbungkus kain sarung bermotif kotak-kotak berwarna cokelat. Warga yang menemukan mengevakuasi potongan kepala tersebut.
Pada waktu yang berdekatan, di sekitar aliran Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, warga menemukan potongan kaki manusia. Kapolsek Batang Anai, Iptu Wadriadi mengatakan, potongan kaki itu ditemukan sekitar pukul 07.00 WIB oleh warga yang sedang melintas di sekitar sungai.
Potongan kaki, tangan, dan kepala tersebut diduga kuat merupakan bagian dari mayat yang ditemukan pada Selasa (17/6) sekitar pukul 10.27 WIB, di aliran Batang Anai. Mayat tersebut ditemukan dalam keadaan tanpa kepala, kedua tangan dan kaki, serta kelamin, dalam kondisi mengapung.
Potongan tubuh mayat yang ditemukan itu lalu dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara di Padang untuk diperiksa secara kedokteran forensik.
Kapolres Padang Pariaman, AKBP Ahmad Faisol Amir, secara tegas menyatakan bahwa temuan mayat termutilasi itu mengarah ke pembunuhan sadis.
“Potongan tubuh ditemukan dalam waktu dan lokasi yang berdekatan. Ini jelas bukan kematian wajar. Dugaan kuat, korban dimutilasi lalu dibuang ke sungai,” ucapnya.
Untuk mengungkap kasus ini, tim gabungan dari Polres Padang Pariaman, Polsek Batang Anai, dan Polresta Padang dikerahkan menyisir aliran Sungai Batang Anai hingga ke wilayah pesisir. Sejumlah titik rawan seperti jembatan, pintu air, dan drainase dipantau ketat untuk mengantisipasi penemuan potongan tubuh lainnya.
Polisi juga mengaktifkan posko aduan di Polsek Batang Anai dan RS Bhayangkara Padang guna menampung laporan warga yang kehilangan anggota keluarga.
Di sisi lain, pengejaran terhadap pelaku juga dikebut. Polisi menelusuri rekaman CCTV di sepanjang jalur lintas Padang–Bukittinggi, perkampungan, dan titik pembuangan sampah di dekat sungai. Setiap saksi yang mencurigakan dipanggil untuk diperiksa.
Kapolres menyebut, kasus ini tergolong kejahatan luar biasa dan menjadi prioritas utama aparat kepolisian. “Kami tidak akan berhenti. Pelaku akan kami buru hingga ke lubang tikus. Mohon dukungan dan doa masyarakat,” ujarnya.
Identitas Korban Mulai Terungkap
Misteri penemuan potongan tubuh manusia di sepanjang aliran Batang Anai Padang Pariaman hingga Kota Padang, perlahan menemui titik terang. Petunjuk awal datang dari potongan tangan yang ditemukan Rabu pagi (18/6). Di tangan itu terpasang dua cincin di jari-jari tangan, salah satunya di jari manis. Sejumlah warga meyakini bahwa cincin tersebut milik seorang perempuan muda asal Lubuk Alung yang hilang sejak akhir pekan lalu.
“Dia memang sering pakai cincin itu, terutama yang di jari manis. Dari situ kami mengenali. Kami teman dekatnya,” ujar warga berinisial P yang mengaku kenal dekat dengan korban, di RS Bhayangkara, Padang, seperti dilansir sumbarkita.id.
Menurut P, korban terakhir terlihat pada Sabtu siang (14/6). Sehari setelahnya, salah satu teman korban mengaku masih sempat berkomunikasi melalui pesan singkat pada Minggu (15/6) sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah itu, kata P, ponsel korban tidak aktif.
“Dia orang Lubuk Alung. Sehari-hari di rumahnya sendiri, kadang ke rumah teman. Sudah tidak kuliah lagi, tapi dulu pernah. Dia juga tak banyak cerita masalah, paling hanya soal uang saja,” tutur P.
P juga menceritakan pula bahwa korban sempat meminjam uang sekitar Rp20 juta dari bank, yang menurut P digunakan untuk kebutuhan temannya. Namun, P menegaskan tidak ada konflik atau perselisihan mencolok sebelum korban menghilang.
Sementara itu, sejumlah orang yang mengaku keluarga korban mutilasi di Batang Anai, Padang Pariaman, terlihat mendatangi RS Bhayangkara Padang, Rabu (18/6).
Kasat Reskrim Polres Padang Pariaman, Iptu AA Reggy mengatakan, orang tua dan kerabat yang mengaku keluarga korban mendatangi RS Bhayangkara untuk memastikan bahwa potongan-potongan tubuh yang ditemukan tersebut milik anggota keluarga mereka. Mereka mengaku kehilangan anggota keluarga seorang perempuan berinisial SA.
Meski demikian, kata Reggy, kepolisian belum bisa menyimpulkan apakah sejumlah potongan tubuh yang ditemukan satu bagian yang utuh dari satu orang atau bukan. Menurutnya, identitas korban baru bisa dipastikan setelah hasil autopsi keluar.
“Kami belum bisa pastikan identitas korban. Semua petunjuk dari masyarakat kami tampung, termasuk soal cincin. Tapi, kami tidak ingin berasumsi. Harus ada dasar yang sahih. Jadi, petunjuk satu-satunya hanya melalui hasil autopsi,” ucap Reggy.
Pihaknya juga membuka pintu bagi warga yang merasa kehilangan anggota keluarga untuk datang ke polres atau polsek setempat untuk melapor. Ia menyebut bahwa beberapa keluarga telah datang memberikan laporan, tetapi identifikasi tetap harus menunggu hasil medis, termasuk kemungkinan tes DNA.
Hingga kini, polisi masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap siapa korban sebenarnya serta bagaimana potongan tubuh tersebut bisa tersebar di Batang Anai dan perairan di Kota Padang. (ski/ant)