Home » Biografi ‘Masfar Rasyid: Aktivis Pergerakan Lintas Zaman’ Diluncurkan, Gubernur Mahyeldi Harapkan PII Terus Beradaptasi dengan Perubahan Zaman

Biografi ‘Masfar Rasyid: Aktivis Pergerakan Lintas Zaman’ Diluncurkan, Gubernur Mahyeldi Harapkan PII Terus Beradaptasi dengan Perubahan Zaman

Redaksi
6 menit baca

BUKITTINGGI, KP – Gubernur Sumbar Mahyeldi menghadiri acara Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (Harba PII) ke-77 dan peluncuran buku biografi ‘Masfar Rasyid, Aktivis Pergerakan Lintas Zaman: dari Salo ke Senayan’ di Gedung Tri Arga Istana Bung Hatta, Bukittinggi, Minggu (2/6/2024).

Dalam sambutannya, Gubernur Mahyeldi mengatakan, 70 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah organisasi. Namun, PII berhasil menjalaninya dengan penuh wibawa, membuktikan bahwa PII telah matang dan mandiri secara organisasi.

Ia berharap PII dapat senantiasa berkontribusi dalam menyatukan umat dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman demi terwujudnya Indonesia Emas 2045.

“Atas nama masyarakat dan Pemprov Sumbar, kami mengucapkan selamat Hari Kebangkitan PII ke-77. Semoga ke depan PII semakin bersemangat untuk berkontribusi mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujar Mahyeldi.

Gubernur menilai ada kesamaan antara pergerakan PII dengan apa yang menjadi fokus Pemprov Sumbar saat ini, terutama terkait upaya peningkatan kapasitas dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang beriman, bertakwa, berilmu, serta beramal.

“Secara umum fokus kita sama, mungkin objeknya saja yang berbeda,” kata Mahyeldi.

Terkait peluncuran buku biografi Masfar Rasyid, gubernur mengatakan bahwa Masfar Rasyid adalah salah satu tokoh inspiratif dari Sumbar. Ia memiliki dedikasi tinggi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat dan tidak mudah goyah meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan.

“Buku biografi ini sangat bernilai dan bisa menginspirasi generasi muda untuk tidak mudah patah semangat dalam berkarya,” kata Mahyeldi.

SUPARDI: SUMBAR ‘GUDANGNYA’ TOKOH PEMIMPIN BERJIWA NEGARAWAN

Pada kesempatan yang sama, Ketua DPRD Sumbar Supardi mengatakan, sejak dahulu dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, banyak tokoh-tokoh pemimpin bangsa berjiwa negarawan lahir dari Ranah Minang. Mereka tampil dengan kepemimpinan yang tidak mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, benar-benar pemimpin negara untuk kepentingan rakyat.

Supardi menyebut, Sumbar tidak pernah berhenti melahirkan pemimpin yang berjiwa negarawan. Salah satunya adalah Masfar Rasyid yang pemikiran-pemikirannya perlu dilanjutkan dan dijadikan panutan bagi generasi ke generasi.

Masfar Rasyid menyerahkan buku biografi kepada Ketua DPRD Sumbar Supardi. (Ist.)

“Meskipun tidak pernah menjabat kepala daerah, tetapi pergerakannya dalam kebangkitan Pelajar Islam Indonesia telah memberikan pemikiran-pemikiran yang patut jadi panutan semua orang,” ujarnya.

Supardi menyampaikan, dalam beberapa dekade terakhir terjadi kemunduran dalam kelahiran tokoh-tokoh pemimpin berjiwa negarawan di Sumbar.

“Hal ini dapat kita cermati ketika dampak peristiwa PRRI, banyak masyarakat mengubah nama anak mereka dengan nama-nama dari Jawa karena rasa malu dan takut anaknya tidak dapat pekerjaan nantinya. Termasuk nama saya, Supardi, yang dianggap sebagian masyarakat saya orang Jawa,” ungkapnya.

Supardi menambahkan, timbangan kekuasaan orde lama, orde baru, serta reformasi saat ini sangat berpengaruh pada tumbuhnya tokoh-tokoh pemimpin yang berjiwa negarawan dari Sumbar.

“Ketika saya masih aktivis organisasi buruh pimpinan Muchtar Pakpahan, tokoh gerakan buruh Indonesia yang mendirikan serikat buruh independen pertama di Indonesia, melakukan aksi demo, saya ikut terpanggil hingga puncaknya di Medan. Saat itu organisasi buruh masuk daftar organisasi yang tidak diakui pemerintah pusat. Kami dicari dan dikejar aparat dalam perjuangan itu,” kenangnya.

Supardi menegaskan, kelahiran pemimpin negarawan tidak serta-merta terjadi karena jabatan atau tumbuh dari kalangan yang berkuasa, tetapi mereka tumbuh besar dalam gerakan dan pemikiran untuk mendahulukan kepentingan rakyat serta kemajuan pembangunan daerah dan nasional.

“Kita berharap akan terus lahir dan tumbuh di setiap generasi pemimpin-pemimpin yang berjiwa negarawan dari Ranah Minang ke depannya. Kelahiran pemimpin berjiwa negarawan ditandai dengan prestasi kemajuan pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya. Semoga Sumbar dan kabupaten/kota terus maju dengan pemimpinnya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat,” harap Supardi.

Turut hadir di acara tersebut Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar Barlius, Ketua Pengurus Yarsi Sumbar Prof. Dr. Zainul Daulay, Ketua Pengurus Wilayah Keluarga Besar PII Sumbar dr. Harmazaldi, Ketua Umum PW PII Sumbar, serta ninik mamak, cadiak pandai, alim ulama, bundo kanduang, dan lainnya.

Dalam rangkaian acara peluncuran buku biografi Masfar Rasyid, juga diadakan bedah buku yang dimoderatori Adel Wahidi. Narasumber yang mengisi sesi ini meliputi Ketua DPRD Sumbar Supardi, Prof. Dr. H. Saifullah MA, Zahirman Zabir, dan Dr. Risman Mochtar.

Selain itu juga digelar silaturahmi akbar dan dialog lintas generasi PII Sumbar dengan tema ‘Adaptasi, Kolaborasi, dan Akselerasi Sumatera Barat’. Dialog ini dipandu oleh Efrizal dan Esa Kurnia, dengan pembicara Tomi Man Bayu (CEO Tom Burger), Sawir Chan (CEO Surya Kids), dan Tareq Albanna (Jaringan Beasiswa Luar Negeri), Sri Hayati (CEO Raihanna Mubarakah), dan Risman Muchtar (Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah Pusat),.

SEKILAS BIOGRAFI MASAR RASYID

Buku biografi ‘Masfar Rasyid, Aktivis Pergerakan Lintas Zaman: Dari Salo ke Senayan’ ditulis oleh wartawan senior H. Adi Bermasa dan Ahmad Kharisma (Redaktur Pelaksana KORAN PADANG). Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Masfar Rasyid yang penuh liku sejak masa kecilnya.

Buku biografi ini diawali dengan membuka tirai masa kecil Masar Rasyid yang diwarnai kekacauan dan pergolakan perang saudara, yang dikenal sebagai konflik PRRI, di tanah kelahirannya, Salo, Kabupaten Agam. Di tengah cobaan dan ketidakpastian, Masfar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dari pengalaman masa kecilnya yang penuh gejolak dan tantangan.

Buku ini juga menuturkan kisah masa remaja Masfar pada era pergolakan komunisme yang berpuncak pada G30S/PKI hingga berujung pada runtuhnya Orde Lama. Pada zaman yang penuh dengan ketidakpastian politik, ketegangan, dan pertarungan ideologi, Masfar Rasyid merasakan langsung dampak-dampaknya bagi kehidupan pribadinya, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.

Ia tidak hanya melewati cobaan-cobaan sulit masa kecil dan remaja, namun juga tumbuh sebagai tokoh yang tidak hanya pasif dalam menghadapi pergolakan. Buku ini membawa pembaca menelusuri jejak-jejaknya yang cukup panjang dan penuh dedikasi dalam dunia politik, hingga berhasil mencapai posisi prestisius sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Melalui setiap halaman, pembaca akan diajak untuk menggali lebih dalam tentang kehidupan dan perjuangan Masfar Rasyid, seorang figur inspiratif yang telah menorehkan sejarah di tengah berbagai gelombang perubahan lintas zaman. Ia adalah saksi hidup sekaligus pelaku dalam setiap momen-momen penting di era Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi. Buku ini juga diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika sosial dan politik Indonesia pada masa-masa krusial tersebut.

Kisah Masfar Rasyid juga mencakup babak yang benar-benar menjadi ujian terberat dalam kehidupannya. Ketika menjabat sebagai anggota DPRD Sumbar periode 1999-2004 dengan posisi wakil ketua, Masfar terseret dalam pusaran kontroversi kasus hukum yang menghebohkan Ranah Minang, bahkan jadi sorotan nasional.

Kasus dugaan korupsi yang menimpa puluhan anggota DPRD Sumbar ketika itu menjadi ujian luar biasa dalam perjalanan karier politiknya. Namun, melalui proses hukum yang panjang dan melelahkan hingga ke Mahkamah Agung, Masfar membuktikan bahwa kebenaran itu pada akhirnya akan tampil sebagai pemenang. Keberanian dan keteguhan hati Masfar dalam menghadapi fitnah dan tudingan yang tidak beralasan menunjukkan bahwa ia adalah seorang tokoh yang kuat dan teguh pada prinsip-prinsip keadilan.

Pembaca juga akan diajak menyelami keteguhan Masfar dalam mempertahankan kearifan lokal Sumatera Barat dan nilai-nilai keislaman yang menjadi landasan hidup masyarakatnya. Dedikasinya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat dan daerah tidak goyah meski dihadapkan pada tembok-tembok kokoh dalam bentuk korporasi elit sekalipun.

Penulisan buku ini bertujuan untuk mengabadikan kontribusi dan perjuangan Masfar Rasyid dalam sejarah Indonesia, serta menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi bangsa. Kehadiran buku ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda Sumbar.

Acara peluncuran buku ini bakal menjadi momen penting untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa Masfar Rasyid, sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan kolaborasi para tokoh dan masyarakat Sumbar, khususnya keluarga besar Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) dan Pelajar Islam Indonesia (PII). Diharapkan, melalui acara ini, semangat perjuangan dan kontribusi Masfar Rasyid dapat terus hidup dan menginspirasi generasi mendatang. (ak)

Jangan Lewatkan