PADANG, KP – Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Supardi mengatakan, peringatan Hari Jadi Sumbar ke-78, yang jatuh pada 1 Oktober mendatang, hendaknya dijadikan momen untuk mengevaluasi perkembangan Sumbar saat ini, apakah telah sesuai dengan harapan atau belum.
“Sesuai dengan Perda yang telah kita sahkan, ini merupakan kali keempat kita memperingati Hari Jadi Sumbar. Oleh karena itu, kita perlu menjadikan momen ini sebagai ajang yang lebih penting dalam kehidupan berbangsa. Ini tidak hanya sekedar seremonial seperti yang biasa kita lakukan dalam peringatan Hari Jadi Sumbar, seperti mengadakan rapat paripurna, memberikan sambutan, dan sebagainya,” ujar Supardi di Padang, kemarin.
Supardi menekankan, seiring dengan peringatan Hari Jadi Sumbar, semua pihak terkait harus bersedia mengevaluasi kembali kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan, baik apakah kebijakan tersebut sudah sesuai dengan Undang-Undang atau belum. Ini mencakup isu-isu seperti kemiskinan, pendidikan, pembangunan yang merata, dan sebagainya.
“Kita harus memberikan makna yang lebih dalam pada peringatan kali ini. Kita harus melihat di mana Sumbar berada saat ini. Dulu, kontribusi besar dari orang Minang terhadap pembentukan republik ini sangat luar biasa. Sumbangan mereka kepada republik ini sangat besar. Kita berharap kesuksesan orang Minang pada masa lalu, yang diwakili oleh tokoh-tokoh mereka yang sangat dikenal baik di tingkat nasional maupun internasional, juga dapat tercermin pada masa sekarang,” katanya.
Supardi menyatakan, Sumbar sekarang minimal harus mencapai tingkat kesuksesan yang sama dengan masa ketika para tokoh Minangkabau tersebut aktif.
Ia menekankan bahwa Sumbar tidak boleh menjadi provinsi yang tertinggal, dan seharusnya menjadi pionir di antara provinsi-provinsi lainnya. Meskipun Sumbar memiliki jumlah penduduk dan luas wilayah yang lebih kecil dibandingkan dengan Jawa, namun Sumbar harus unggul dalam hal kualitas manusianya dan pembangunannya.
“Kita harus memanfaatkan momen ini untuk mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang telah kita jalankan. Sumbar memiliki potensi terbatas dalam hal sumber daya alam, industri, dan sektor pariwisata. Oleh karena itu, kita harus menonjolkan keunggulan yang tidak dimiliki oleh daerah lain, seperti potensi SDM. Sumbar harus menjadi tempat di mana kecerdasan diproduksi, bukan hanya kecerdasan dalam arti konvensional, tetapi juga dalam arti lebih luas,” ujarnya.
Supardi juga menekankan, Sumbar harus mampu melahirkan individu yang cerdas seperti tokoh-tokoh Minangkabau terdahulu seperti Agus Salim, Mohammad Hatta, M. Natsir, dan Tan Malaka.
Meskipun banyak dari mereka tidak memiliki pendidikan tinggi, namun mereka memiliki kecerdasan yang diakui dunia dan tetap dikenang hingga saat ini.
“Seperti Tan Malaka, meskipun tidak menyelesaikan pendidikan tinggi, namun ia menjadi dosen di berbagai universitas di seluruh dunia, termasuk di Belanda dan Rusia. Ia juga menjadi anggota parlemen Belanda saat Indonesia masih dijajah. Kita perlu menghasilkan SDM yang memiliki tingkat kecerdasan seperti itu,” katanya.
Supardi menuturkan bahwa peringatan Hari Jadi Sumbar yang akan datang pada 1 Oktober telah mengundang berbagai pihak, termasuk forkompimda, anggota DPRD, tokoh masyarakat, bupati dan wali kota, mantan gubernur, guru-guru SMA/SMK, LSM, Ormas, dan banyak pihak lainnya. (fai)
