Inovasi Alat Kesehatan dari Kampus, Spirometer Portabel Disiapkan sebagai Media Praktikum

Oleh: Fauzyah Aprillia, S.Tr.T, M.Sc (Dosen Radiologi Universitas Baiturrahmah)

by Ahmad Kharisma
A+A-
Reset

Inovasi teknologi kesehatan tidak selalu harus dimulai dari perangkat yang kompleks. Sebuah sistem sederhana yang dirancang dengan tujuan pendidikan juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan cara kerja teknologi medis kepada mahasiswa.

Hal tersebut menjadi salah satu gagasan dalam penelitian pengembangan spirometer portabel bagi mahasiswa D3 Radiologi.

Perangkat dikembangkan dengan menggabungkan sensor tekanan MPX5500DP, Arduino Uno sebagai mikrokontroler, dan Nextion Display.

Spirometer dirancang untuk mengukur parameter fungsi paru, termasuk FVC dan FEV₁, serta menghasilkan rasio FEV₁/FVC dan visualisasi spirogram.

Dari sisi desain, perangkat dibuat dalam bentuk portabel sehingga lebih mudah digunakan dalam konteks pembelajaran dan laboratorium.

Nilai penting penelitian ini terletak pada pendekatan pembelajarannya. Perangkat tidak hanya digunakan untuk memperoleh hasil pengukuran, tetapi juga dapat menjadi objek untuk mempelajari bagaimana sebuah alat medis bekerja.

Mahasiswa dapat diperkenalkan pada proses sensing, akuisisi sinyal, pengolahan data, perhitungan parameter, dan visualisasi.

Pengembangan juga dilengkapi pengujian teknis menggunakan syringe kalibrasi. Lima pengulangan dilakukan untuk setiap kondisi pengujian.

Dalam hasil pengujian 1 liter yang tercantum pada penelitian, rata-rata FVC yang diperoleh adalah 0,994 liter dengan rata-rata error 1 persen.

Hasil tersebut menunjukkan adanya kedekatan antara hasil pengukuran dengan volume acuan pada kondisi pengujian tersebut. Namun, hasil tersebut belum cukup untuk menyatakan performa klinis perangkat secara keseluruhan.

Penelitian juga belum melakukan pengujian langsung mengenai pengaruh penggunaan perangkat terhadap prestasi atau pemahaman mahasiswa. Karena itu, perangkat dalam penelitian ini diposisikan sebagai prototipe dan media pembelajaran potensial.

Langkah selanjutnya dapat diarahkan pada dua aspek.

Pertama, penyempurnaan pengujian teknis, termasuk pengumpulan data lengkap untuk berbagai volume, pengukuran error, repeatability, dan validasi sistem.

Kedua, evaluasi pendidikan dengan melibatkan mahasiswa sebagai pengguna. Penilaian dapat dilakukan melalui pre-test dan post-test, penilaian keterampilan praktikum, serta kuesioner usability dan pengalaman pengguna.

Jika kedua aspek tersebut dikembangkan secara berkelanjutan, prototipe spirometer dapat menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran instrumentasi medis yang lebih kontekstual.

Inovasi tersebut menunjukkan bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat untuk mempelajari teknologi yang sudah tersedia, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan dan menguji teknologi yang dapat digunakan dalam proses pendidikan.

Bagi mahasiswa, pengalaman berinteraksi langsung dengan sebuah prototipe alat medis dapat menjadi jembatan antara teori di kelas dengan teknologi yang mereka temui di dunia pelayanan kesehatan. *

Apakah berita ini bermanfaat?
Ya0Tidak0