Home » Batik Tangsi: Karya Warga Binaan yang Hidupkan Kembali Sejarah Sawahlunto

Batik Tangsi: Karya Warga Binaan yang Hidupkan Kembali Sejarah Sawahlunto

Redaksi
A+A-
Reset

SAWAHLUNTO, KP – Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Sawahlunto melahirkan inovasi kreatif bernilai sejarah melalui produk batik bernama Batik Tangsi. Karya ini tidak hanya menjadi produk unggulan, tetapi juga mengangkat kembali kekayaan budaya lokal yang berkaitan dengan sejarah Tambang Batubara Ombilin pada masa kolonial.

Batik Tangsi merupakan gagasan Kepala Lapas Narkotika Sawahlunto, Ressy Setiawan, yang baru lima bulan bertugas di kota berstatus Warisan Dunia tersebut. Seluruh proses pembuatannya melibatkan warga binaan sebagai bentuk pemberdayaan dan pembinaan.

Dalam kegiatan Ngopi Bareng bersama awak media di Aula Lapas Narkotika Sawahlunto, Senin (17/11), Ressy menyampaikan pentingnya dukungan berbagai pihak untuk memaksimalkan pengembangan karya inovatif ini.

“Di tengah segala keterbatasan, kami berharap pemberitaan dari rekan-rekan media dapat menggugah Pemerintah Kota, wakil rakyat, hingga para pengusaha tambang batubara untuk ikut mendukung kegiatan pemberdayaan warga binaan yang saat ini berjumlah 511 orang,” kata Ressy Setiawan, yang sebelumnya menjabat Kepala Pengamanan Rutan Kelas I Palembang.

Ressy menjelaskan, ide Batik Tangsi muncul setelah ia melihat potensi karya yang dapat dikembangkan sekaligus mengabadikan narasi Sawahlunto sebagai kota warisan dunia melalui media kain. Nama “Tangsi” merujuk pada barak atau bangunan penjara kolonial yang menjadi inspirasi lahirnya tiga motif utama Batik Tangsi.

Motif pertama adalah Orang Rantai, yang menggambarkan figur manusia terikat rantai sebagai refleksi sejarah buruh paksa atau narapidana yang terlibat dalam operasional tambang batubara pada masa lalu.

Motif kedua adalah Mak Itam, simbol lokomotif kereta api uap ikonik yang dahulu beroperasi di Sawahlunto. Motif ini mewakili konektivitas, transportasi, dan kemakmuran batubara pada era tersebut.

Motif terakhir adalah Lingkaber atau lingkar kawat berduri, yang merepresentasikan lingkungan lapas dan mengingatkan pada batasan serta proses pembinaan yang dijalani warga binaan.

“Batik Tangsi ini membuktikan bahwa keterbatasan ruang di balik jeruji besi tidak membatasi kreativitas. Karya warga binaan ini diharapkan menjadi produk kerajinan yang membanggakan sekaligus duta untuk menceritakan kembali sejarah Sawahlunto kepada masyarakat luas,” tutup Ressy. (nto)

Jangan Lewatkan

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?