SOLOK, KP – Serangan hama tikus yang terus terjadi sejak dua tahun terakhir melumpuhkan perekonomian petani padi di Kabupaten Solok. Bahkan, sebagian petani terpaksa mengalihfungsikan lahan persawahan mereka untuk ditanami kentang, bawang merah, hingga ubi jalar.
“Sawah saya biasanya menghasilkan 900 sukat padi setiap panen. Namun sudah tiga kali panen hanya dapat 300 sukat karena hama tikus,” kata Yunafrizal (53 tahun), seorang petani padi di Tanah Kuniang, Nagari Jawi-Jawi Guguak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Kamis (27/4).
Warga lainnya, ica juga mengeluhkan serangan hama tikus dalam dua tahun terakhir ini benar-benar membuat petani mengalami kerugian.
“Kalau panen tinggal setengah dari biasanya, itu masih untung. Namun sekarang malah kurang. Ditambah cuaca kurang bersahabat,” sebutnya.
Sementara Mawan (58 tahun), warga Pinang Sinawa, Nagari Gantung Ciri, Kecamatan Kubung, juga mengaku kewalahan menghadapi serangan hama tikus. Namun demikian, lanjutnya, serangan tahun ini tidak separah dua musim panen sebelumnya.
“Serangan hama tikus sudah mulai berkurang, tetapi hasil panen masih belum normal,” ucapnya.
Penyuluh pertanian Nagari Jawi-Jawi, Entismawati menyebut, untuk mengurangi serangan hama tikus, dirinya sudah sering mengedukasi petani untuk menerapkan pola tanam serentak dan menggunakan sistem ruang terbuka di areal persawahan.
“Petani kita anjurkan menanam padi tiga baris dan di tengahnya diberi ruang. Sebab, tikus takut pada tempat yang terang dan dia memakan padi dengan cara memutar,” kata Entismawati.
Di tengah serangan hama tikus, lahan persawahan kini banyak dijadikan lahan untuk menanam ubi jalar dan bawang. Rio (35), petani di Kayuaro, Nagari Batang Barus, mengatakan, bawang dan ubi jalar lebih menjanjikan karena bisa cepat dipanen.
“Kalau padi waktu panennya sekitar empat bulan. Sementara bawang hanya 65 hari,” ujarnya.
Menurutnya, lebih dari setengah total lahan persawahan di Kayuaro sudah ditanami bawang atau ubi jalar. (wan)
