Home » AI Karya Dosen Unbrah Bantu Deteksi Dini Tuberkulosis di Lapas

AI Karya Dosen Unbrah Bantu Deteksi Dini Tuberkulosis di Lapas

Oleh: Fauzyah Aprillia, S.Tr.T., M.Sc. (Dosen D3 Radiologi - Universitas Baiturrahmah)

by Redaksi
A+A-
Reset

PADANG, KP – Inovasi di bidang kesehatan digital kembali lahir dari dunia akademik. Dosen Fakultas Vokasi Universitas Baiturrahmah bersama tim peneliti mengembangkan TB-Guard, sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu membantu mendeteksi risiko tuberkulosis (TB) secara dini melalui pemeriksaan tanda-tanda vital tubuh.

Inovasi ini dikembangkan sebagai solusi atas tingginya risiko penularan tuberkulosis di lingkungan lembaga pemasyarakatan (lapas).

Kondisi hunian yang padat, ventilasi yang terbatas, serta akses layanan kesehatan yang tidak selalu optimal menyebabkan penghuni lapas menjadi kelompok yang rentan terhadap penyebaran penyakit TB.

Berbeda dengan pemeriksaan konvensional yang membutuhkan foto rontgen atau pemeriksaan laboratorium, TB-Guard memanfaatkan data fisiologis yang mudah diperoleh, seperti suhu tubuh, saturasi oksigen (SpO₂), denyut nadi, tekanan darah, dan frekuensi pernapasan.

Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan algoritma Gradient Boosting Machine (GBM) untuk memprediksi risiko tuberkulosis secara cepat dan objektif.

Penelitian yang melibatkan 70 warga binaan perempuan di Lembaga pemasyarakatan Kelas 2B Padang menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Model kecerdasan buatan yang dikembangkan berhasil mencapai tingkat akurasi sebesar 92,86 persen dengan nilai Area Under Curve (AUC) sebesar 0,947, yang menunjukkan kemampuan klasifikasi yang sangat baik dalam membedakan individu yang berisiko TB dan yang tidak.

Ketua peneliti, Fauzyah Aprillia, menjelaskan bahwa tujuan utama pengembangan TB-Guard bukan untuk menggantikan pemeriksaan dokter atau foto rontgen, melainkan menjadi sistem skrining awal yang dapat membantu tenaga kesehatan menentukan siapa saja yang perlu mendapatkan pemeriksaan lanjutan.

“Semakin cepat seseorang diketahui memiliki risiko tuberkulosis, semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan. Hal ini penting untuk menekan penularan, terutama di lingkungan dengan risiko tinggi seperti lembaga pemasyarakatan,” ujarnya, Sabtu (18/7/2026).

Selain memiliki manfaat klinis, TB-Guard juga dirancang sebagai konsep HealthTech Startup, yaitu inovasi digital kesehatan yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk teknologi yang dapat digunakan oleh berbagai fasilitas kesehatan.

Sistem ini berpotensi diterapkan di puskesmas, klinik, rumah tahanan, hingga daerah terpencil yang memiliki keterbatasan fasilitas diagnostik.

Pengembangan TB-Guard menjadi contoh bahwa hasil penelitian di perguruan tinggi tidak hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat.

Pemanfaatan kecerdasan buatan di bidang kesehatan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pelayanan, mempercepat proses skrining penyakit, serta mendukung program eliminasi tuberkulosis yang sedang digencarkan pemerintah.

Ke depan, tim peneliti berencana melakukan pengembangan lebih lanjut dengan melibatkan jumlah responden yang lebih besar, mengintegrasikan sistem dengan layanan kesehatan digital, serta menyempurnakan aplikasi agar siap digunakan secara luas.

Melalui inovasi seperti TB-Guard, Indonesia menunjukkan bahwa transformasi digital di bidang kesehatan dapat lahir dari karya anak bangsa dan memberikan kontribusi nyata dalam upaya pencegahan serta pengendalian penyakit menular. (ak/*)

Have any thoughts?

Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!

Berita Terkait