SOLOK, KP — Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sumatera Barat bersama Dinas Pertanian Kabupaten dan Kota Solok bergerak cepat melaksanakan pendampingan dan monitoring pasca-bencana banjir. Kegiatan ini dilakukan untuk mendukung swasembada pangan nasional dan menjaga keberlanjutan produksi.
Banjir yang disebabkan anomali atmosfer akibat Siklon Senyar di Selat Malaka menyebabkan hujan deras terus menerus sejak 23 hingga 27 November dan menyebabkan banjir. Akibatnya, lahan pertanian terendam air dan tertutup lumpur, pasir, serta batu.
Kegiatan pendampingan lapangan dilakukan di Kabupaten Solok, yaitu di Kecamatan Kubung, X Koto Singkarak, Junjung Sirih) dan Kota Solok di Kelurahan KTK, Tanah Garam, Aro IV Korong, serta IX Korong.
Tim melakukan identifikasi kerusakan lahan, pemetaan ulang jadwal tanam, serta koordinasi untuk mempercepat pompanisasi dan rehabilitasi saluran irigasi.
Berdasarkan hasil monitoring, total luas sawah yang terdampak di dua wilayah itu mencapai 2.027,9 hektar.
Di Kota Solok, luas lahan sawah terdampak 107,9 hektare, dengan 54,35 hektare mengalami gagal panen (puso). Kerugian ditaksir mencapai Rp2,59 miliar.
Sedangkan di Kabupaten Solok total lahan sawah terdampak 1.920 hektare, dengan 367 hektar mengalami puso, serta 1.394 meter jaringan irigasi rusak.
Tim BRMP dalam keterangan resminya, Kamis (4/12), menyampaikan keprihatinan dan berharap kondisi segera pulih. Kegiatan pendampingan ini merupakan langkah cepat untuk memastikan petani mendapat dukungan teknis dan sarana produksi agar bisa segera melakukan tanam ulang.
Sinergi antara BRMP, Dinas Pertanian, penyuluh, dan kelompok tani di lapangan diharapkan dapat mempercepat pemulihan sektor pertanian dan memastikan target tanam musim 2025/2026 tetap tercapai. (mas)
