JAKARTA, KP – Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi mengakhiri masa tanggap darurat bencana banjir dan longsor di Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Seiring dengan perubahan status tersebut, operasi pencarian terhadap 140 korban yang masih dinyatakan hilang di seluruh wilayah terdampak resmi dihentikan oleh Basarnas dan tim gabungan.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto menjelaskan, keputusan ini diambil seiring dengan masuknya fase transisi menuju pemulihan. Secara akumulatif, total korban meninggal dunia di tiga provinsi tersebut mencapai 1.204 jiwa, sementara lebih dari 105.000 jiwa hingga kini masih bertahan di pengungsian.
“Operasi pencarian pertolongan sudah dihentikan oleh Basarnas karena sekarang sudah masuk masa transisi menuju pemulihan. Ketiga provinsi sudah mencabut status tanggap daruratnya,” ujar Suharyanto dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (4/2).
Meski status telah berubah menjadi transisi darurat, Suharyanto menegaskan bahwa dukungan bantuan dari pemerintah pusat tidak akan berkurang. Merujuk pada PP Nomor 21 Tahun 2008, BNPB tetap memastikan ketersediaan logistik dan akses Dana Siap Pakai (DSP) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di lapangan selama masa transisi berlangsung.
Di Sumatera Barat, data rekapitulasi menunjukkan Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan dampak paling mematikan. Tercatat 163 warga meninggal dunia, 38 orang hilang, dan 4.311 jiwa masih mengungsi di wilayah tersebut. Selain Agam, daerah lain yang mencatatkan angka kematian cukup tinggi adalah Padang Pariaman (35 jiwa), Padang Panjang (17 jiwa), dan Kota Padang (11 jiwa).
Sementara itu, wilayah dengan jumlah penduduk terdampak paling luas berada di Pesisir Selatan (74.523 jiwa), Kabupaten Pasaman Barat (61.325 jiwa), dan Kabupaten Solok (49.306 jiwa).
Penghentian operasi pencarian ini menjadi duka mendalam bagi keluarga korban yang anggota keluarganya belum ditemukan, terutama di wilayah Agam dan Padang Panjang yang mencatat angka korban hilang terbanyak di Sumbar. (mas)
