PADANG, KP – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merekomendasikan jalan Sitinjau Laut pada jalur Paang-Solok ditutup. Sebab, jalan tersebut disebut ‘jalur kematian’ oleh KNKT. Dari data KNKT, setidaknya ada 36 kali kecelakaan setiap tahun di jalur tersebut.
Gubernur Sumbar Mahyeldi mengungkapkan, KNKT menilai jalan Sitinjau Laut sangat berbahaya untuk dilalui karena rentan dengan kecelakaan lantaran kondisi jalan dengan turunan maupun tanjakan yang sangat panjang dan tikungan curam.
“Jadi, rekomendasinya ditutup. Dengan alasan itu pula di Sitinjau Laut harus dibangun jalur baru. Kita upayakan membangun jembatan layang (fly over),” kata Mahyeldi kepada wartawan, kemarin.
Pernyataan itu diperkuat Kepala Bappeda Sumbar Medi Iswandi. Menurutnya, dari kajian KNKT jalan Sitinjau laut tersebut memiliki turunan yang panjang sehingga tidak memungkinkan rem kendaraan bertahan.
“Rem mobil tidak tahan dengan turunan seperti itu,” ujarnya.
Bahkan, katanya, jalur Sitinjau Laut ini termasuk paling berbahaya di Indonesia.
Diketahui, pemerintah berencana akan membangun fly over Sitinjau Laut. Rencana pembangunan tersebut saat ini masih dalam proses lelang di Bappenas.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono telah menyetujui prakarsa pengusahaan Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) Fly Over (Jalan Layang) Sitinjau Laut. Persetujuan itu tercantum melalui surat tertanggal 30 Oktober 2023 nomor BM 0201-Mn/2407 perihal Persetujuan Prakarsa Pengusahaan KPBU Fly Over Sitinjau Laut.
Pembangunan jalan itu diperkirakan membutuhkan anggaran Rp2,4 triliun lebih dengan menggunakan pembiayaan sistem Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Medi menyebut, semua studi kelayakan atau Feasibility Studies (FS) Fly Over Sitinjau Laut sudah disusun oleh PT Hutama Karya (HK).
Rencana awal, groudbreaking (peletakan batu pertama) pembangunan flyover Sitinjau Laut akan dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 19 Desember 2023 lalu. Namun, Presiden Jokowi tidak jadi hadir. (fai)