PADANG, KP – Wacana untuk mengoptimalkan fungsi Hutan Lindung (HL), khususnya Taman Hutan Raya (Tahura) Bung Hatta dan beberapa hutan lindung lainnya di Sumatera Barat, muncul menjelang rencana pembangunan Fly Over Sitinjau Lauik.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mengadakan audiensi dengan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK RI, Satyawan Pudyatmoko, Rabu (17/1).
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa optimalisasi Hutan Lindung sangat penting untuk memanfaatkan potensi pariwisata, infrastruktur, dan ekonomi di kawasan tersebut.
Ia telah mengirim surat kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait rencana optimalisasi hutan lindung di Sumbar, termasuk Tahura Bung Hatta yang terletak di perbatasan Kota Padang dan Kabupaten Solok.
Gubernur Mahyeldi mengungkapkan bahwa Tahura Bung Hatta memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Namun, pengembangan kawasan tersebut terkendala oleh status Hutan Lindung yang masih melekat padanya.
Disampaikan, harapannya agar status Tahura dapat diberikan, sehingga fasilitas publik, termasuk rencana pembangunan Fly Over Sitinjau Lauik, dapat direalisasikan.
Gubernur juga menilai bahwa pengelolaan kawasan Tahura Bung Hatta saat ini kurang terkendali, dengan adanya warung, rumah, dan usaha pencucian mobil yang berdiri di sana. Beliau berencana untuk merapikan kawasan tersebut dan mengusulkan pengembangan hingga ke Kabupaten Solok.
Menyikapi permintaan Gubernur, Dirjen KSDAE KLHK, Satyawan Pudyatmoko, menjelaskan bahwa Tahura Bung Hatta saat ini masih memiliki status sebagai hutan lindung yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden pada tahun 1986 dengan luas 240 hektare.
Pihaknya akan segera menindaklanjuti permintaan Pemprov Sumbar untuk mengoptimalkan fungsi kawasan lindung tersebut dengan menyampaikannya kepada pihak terkait di tingkat pusat.
“Dengan persyaratan lengkap dari provinsi, penetapan status Tahura untuk Hutan Lindung Tahura Bung Hatta ini akan kita proses dengan cepat,” jelas Satyawan Pudyatmoko. (fai)
