LIMAPULUH KOTA, KP – Nasib petani gambir di Kabupaten Limapuluh Kota semakin mengkhawatirkan akibat penurunan harga komoditas andalan tersebut secara drastis. Dalam beberapa bulan terakhir, harga gambir terjun bebas dari Rp7.000 per kilogram menjadi hanya Rp2.500 per kilogram.
Kondisi ini diperparah oleh situasi keamanan yang memburuk di India, negara tujuan ekspor utama gambir dari Limapuluh Kota, yang saat ini terlibat konflik dengan Pakistan.
“Jika hal ini dibiarkan tanpa solusi, ribuan petani dan pedagang di daerah penghasil gambir terbesar di Sumatera Barat ini terancam masuk jurang kemiskinan,” kata mantan Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, Rabu (14/5).
Ia meminta pemda segera mengambil langkah-langkah penyelamatan, paling tidak meluncurkan jaringan pengaman sosial. Menurutnya, untuk menyelamatkan petani dalam kondisi harga gambir yang anjlok, pemda dapat menerapkan beberapa kebijakan, seperti diversifikasi produk, peningkatan kualitas, pengembangan inovasi, dan penguatan pemasaran.
Selain itu, Ferizal Ridwan juga menekankan pentingnya dukungan kepada pelaku usaha berupa bantuan modal, pelatihan, insentif (seperti BLT), dan kebijakan lain yang berkaitan dengan produk gambir. Pemda juga diharapkan memfasilitasi akses pasar dan menciptakan iklim usaha yang kondusif.
“Saat ini dibutuhkan stimulus jaringan pengaman sosial. Paling tidak untuk enam bulan ke depan jelang harga gambir bisa naik dan stabil lagi. Dengan melakukan kebijakan-kebijakan tersebut, pemda dapat membantu pelaku usaha dan pedagang untuk mengatasi dampak anjloknya harga gambir serta meningkatkan daya saing dan ketahanan ekonomi daerah,” pungkas Ferizal Ridwan. (dst)