PADANG, KP — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) tengah mempercepat pendataan dan pemilahan kayu hanyutan sisa bencana banjir di sepanjang pesisir Pantai Padang serta Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Kuranji dan Sungai Air Dingin.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pembersihan material pascabencana yang dilakukan secara serentak di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat untuk memulihkan aktivitas warga.
Kepala BKSDA Sumatera Barat, Hartono menjelaskan, pihaknya bersama Dinas Kehutanan Provinsi masih melakukan identifikasi menyeluruh terhadap jumlah dan jenis kayu yang terbawa arus. Pendataan ini menjadi krusial karena akan menjadi landasan hukum bagi pemanfaatan kayu sisa bencana untuk kebutuhan masyarakat, setelah tim pemanfaatan resmi ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Sumatera Barat.
Secara regional, penanganan material kayu sisa bencana ini telah menunjukkan hasil nyata di provinsi tetangga. Di Aceh Utara, tim gabungan telah mendata sekitar 469,26 meter kubik kayu yang sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan hunian sementara (huntara).
Sementara di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pemilahan kayu di sepanjang Sungai Garoga telah mencapai 100 persen sesuai target peta kerja dengan total volume kayu bulat mencapai 253,85 meter kubik.
Kementerian Kehutanan memastikan proses pembersihan ini dilakukan secara terpadu bersama TNI dan Polri guna menjamin transparansi pemanfaatan kayu sisa bencana. Fokus utama gerakan ini adalah memulihkan fasilitas umum yang terhambat tumpukan kayu serta menyediakan material konstruksi darurat bagi warga terdampak.
Kemenhut berkomitmen untuk terus memperbarui data secara berkala agar pendistribusian kayu sisa bencana berjalan tertib dan tepat sasaran. (mas)