PADANG, KP – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Padang menggelar seminar bertema “Pencegahan dan Penanganan Kekerasan pada Anak” di Gedung Bagindo Aziz Chan, Kantor Balai Kota Padang, Rabu (9/10). Acara ini dibuka Penjabat (Pj) Ketua DWP Kota Padang, Ny. Netti Yosefriawan.
Narasumber seminar ini terdiri dari tokoh agama M. Yunus, Wakil Kepala SMA Negeri 14 Padang, Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Sumatera Barat, Yenni Putri dan aktivis pemerhati perempuan dan anak, Ermiati.
Ny. Netti Yosefriawan menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan untuk menyikapi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih marak terjadi hingga saat ini. “Akhir-akhir ini, banyak media memberitakan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan seksual, kekerasan fisik, hingga pembunuhan. Ini sangat miris sekali,” ujarnya.
Dia berharap, seminar ini dapat memberikan pengetahuan, wawasan, dan pemahaman bagi para anggota DWP di Kota Padang.
“Saya berharap setiap anggota DWP dapat terlibat aktif dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Padang. Mari kita cegah bersama, jangan sampai ada lagi kekerasan yang menimpa kaum perempuan dan anak di lingkungan kita,” imbau Pj Ketua DWP Kota Padang ini.
Sementara itu, Ketua Bidang Pendidikan DWP Kota Padang, Ny. Yeni Habibul Fuadi, selaku penanggung jawab acara, menyebutkan bahwa seminar ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) DWP ke-25 tingkat Kota Padang. “Kegiatan ini diikuti oleh 200 peserta yang terdiri dari ketua dan anggota DWP Unsur Pelaksana (UP), tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan pengurus panti asuhan di Kota Padang,” sebutnya.
Sementara itu, salah seorang narasumber, Ermiati, menjelaskan bahwa perempuan dan anak merupakan kelompok yang rentan menjadi korban kekerasan. Kekerasan yang dialami biasanya meninggalkan trauma bagi korban.
“Korban yang mengalami kekerasan seringkali tidak tahu harus berbuat apa, disebabkan kurangnya pengetahuan atau rasa malu untuk melapor. Akibatnya, mereka membiarkan diri terjebak dalam kekerasan secara terus-menerus, yang lama kelamaan dapat merusak jiwa mereka. Inilah persoalan yang harus kita bantu tangani,” jelas Ermiati, yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Padang. (red)