PADANG, KP — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bergerak cepat memulihkan kawasan pesisir Kota Padang yang tertimbun material kayu pascabanjir bandang. Melibatkan hampir 500 peserta dari berbagai instansi dan masyarakat, aksi bersih pantai dan laut ini difokuskan untuk membuka kembali akses perahu nelayan yang sempat lumpuh total.
Aksi yang dipusatkan di Pantai Muaro Gantiang, Kelurahan Air Tawar Barat, ini menjadi langkah strategis untuk memulihkan ekosistem sekaligus menggerakkan kembali roda ekonomi nelayan. Pasalnya, akumulasi material kayu dan sampah alami sisa bencana telah menutup jalur keluar-masuk perahu, sehingga para nelayan tidak dapat melaut selama beberapa waktu.
“Kami tidak hanya memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga memastikan keselamatan dan keberlanjutan aktivitas nelayan agar mereka dapat segera kembali melaut dan berproduksi,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, Kamis (25/12).
Uniknya, material kayu yang berhasil dikumpulkan tidak dibuang begitu saja. KKP berkolaborasi dengan PLTU Teluk Sirih untuk memanfaatkan kayu-kayu tersebut sebagai bahan bakar pembangkit listrik (co-firing). Sementara itu, sampah lainnya yang tidak bernilai guna diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang ke TPA Lubuk Minturun.
Selain pembersihan fisik, KKP juga menyalurkan bantuan bahan pokok bagi nelayan terdampak menggunakan Kapal Pengawas Perikanan Orca 05 dan Orca 06. Kepala LKKPN Pekanbaru, Rahmad Hidayat, menyebutkan bahwa pembersihan ini berdampak langsung pada mata pencaharian warga lokal yang bergantung pada sektor perikanan.
“Tumpukan kayu ini adalah hambatan utama. Dengan terbukanya akses ini, kami berharap aktivitas ekonomi masyarakat pesisir segera pulih seperti sediakala,” pungkas Rahmad.
Kegiatan kolaboratif ini didukung oleh berbagai pihak, mulai dari OPD Provinsi Sumbar dan Kota Padang, PLN Indonesia Power UBP Teluk Sirih, hingga kelompok nelayan setempat. Sinergi lintas sektor ini diharapkan dapat meningkatkan ketangguhan wilayah pesisir Sumatera Barat dalam menghadapi potensi bencana di masa depan. (mas)
