SOLOK, KP — Pemerintah Kabupaten Solok mulai menyusun strategi pemulihan pascabencana hidrometeorologi melalui rapat evaluasi teknis yang melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Selasa (6/1). Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Solok, Medison, menegaskan bahwa fase transisi ini adalah momen krusial yang menentukan kecepatan masyarakat untuk bangkit.
Medison menekankan bahwa pemulihan tidak boleh hanya sekadar membangun kembali infrastruktur yang rusak secara fisik. Lebih dari itu, pemerintah harus menjamin warga terdampak bisa kembali beraktivitas dengan rasa aman dan memiliki kemandirian ekonomi pascamusibah.
“Di sinilah kolaborasi menjadi kunci. Pemulihan tidak cukup hanya membangun yang rusak, tapi memastikan masyarakat kembali berdaya. Masa transisi menuntut kehadiran negara secara utuh dalam tindakan nyata,” ujar Medison.
Ia mewanti-wanti agar setiap rencana kegiatan pascabencana didasarkan pada data lapangan yang akurat, bukan sekadar agenda seremonial. Seluruh OPD dan pihak kecamatan diinstruksikan untuk menyelaraskan program kerja agar penanganan berjalan terintegrasi dan tidak tumpang tindih.
Selain fokus pada perbaikan darurat, Pemkab Solok juga berkomitmen menjadikan musibah ini sebagai pelajaran untuk memperkuat ketangguhan daerah. Evaluasi ini diarahkan pada pembentukan tata kelola penanganan bencana yang lebih responsif dan inklusif di masa depan.
“Bencana ini adalah panggilan tanggung jawab bersama untuk bangkit secara terencana. Kita ingin membangun sistem yang lebih siap menghadapi tantangan bencana hidrometeorologi ke depannya,” pungkas Medison. (red)