LUBUK SIKAPING, KP — Pemerintah Kabupaten Pasaman resmi meluncurkan “Bareh Equator Pasaman”, beras asli hasil panen petani lokal, Senin (11/8), di halaman kantor bupati.
Peluncuran ini menjadi bagian dari program unggulan 100 hari kerja bupati dan wakil bupati, sekaligus langkah strategis memperkuat swasembada serta ketahanan pangan daerah.
Bupati Pasaman, Welly Suhery, menyebut Bareh Equator diproduksi di daerah sendiri dengan varietas unggul seperti benang pulau, sokan, dan IR 64. Proses penggilingan dilakukan di fasilitas berkapasitas produksi terbesar di Sumatera Barat.
“Hari ini momentum bersejarah bagi Pasaman. Bareh Equator adalah identitas sekaligus kebanggaan kita. Dengan membeli beras lokal, kita membela petani, memperkuat ekonomi, dan menjaga ketahanan pangan,” ujar Welly.
Ia menambahkan, produksi beras Pasaman sudah melampaui kebutuhan lokal. Bulog telah menyerap 930 ton beras dan 600 ton gabah dari petani setempat. “Kerja sama ini berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani dan penyerapan tenaga kerja di sektor pangan,” kata Welly.
Peluncuran juga diwarnai penandatanganan nota kesepahaman antara Bulog Cabang Bukittinggi dengan sejumlah BUMNag dan koperasi, termasuk Koperasi Desa Merah Putih dan KPN/KP-RI.
Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Pasaman, M. Dwi Richie, menegaskan Bareh Equator bukan sekadar produk pangan, tetapi simbol kemandirian daerah. “Dari petani, penggilingan, koperasi, hingga Bulog, semua terlibat dalam satu rantai ekonomi yang saling menguatkan. Kualitas dan pasokan akan terus kami jaga agar mampu bersaing, bahkan menembus pasar luar daerah,” ujarnya.
Program ini, lanjut Richie, selaras dengan target penciptaan 1.000 lapangan kerja baru dalam 100 hari kerja pertama kepala daerah. “Launching ini menunjukkan keseriusan pemerintah menumbuhkan ekonomi rakyat, sekaligus menjadi tonggak awal Pasaman Bangkit yang Berkarakter, Maju, dan Berkelanjutan,” katanya. (nst)