SOLOK, KP — Kegiatan sosialisasi pemanfaatan energi panas bumi (geothermal) yang digelar Pemerintah Kabupaten Solok di Masjid Nurul Islam, Nagari Batu Bajanjang, Kecamatan Lembang Jaya, Kamis (13/11), berakhir ricuh setelah sebagian warga menolak rencana pembangunan proyek tersebut.
Kegiatan ini dihadiri Bupati Solok Jon Firman Pandu, unsur Forkopimda, Dandim 0309/Solok Sapta Raharja, Kapolres Solok Arosuka AKBP Agung Pranajaya, serta perwakilan PT Hitay Daya Energy selaku pihak pengelola. Hadir pula Tenaga Ahli Gubernur Sumatera Barat Yulnofrins Napilus, yang memaparkan aspek teknis dan potensi pemanfaatan energi panas bumi di wilayah tersebut.
Sebelumnya, masyarakat Batu Bajanjang sempat menyatakan penolakan terhadap proyek geothermal. Namun, setelah melalui dialog dengan pemerintah, warga menyepakati diadakannya sosialisasi untuk membahas manfaat, dampak, serta langkah mitigasi proyek tersebut.
Dalam arahannya, Bupati Jon Firman Pandu mengajak masyarakat untuk membuka ruang diskusi dan melihat potensi ekonomi yang dapat muncul dari pengelolaan sumber daya panas bumi.
“Potensi alam tidak hanya di atas tanah, tetapi juga di dalamnya. Dengan teknologi yang ada, mari kita manfaatkan secara bijak untuk kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Bupati juga menegaskan agar perusahaan pengelola berkomitmen terhadap tanggung jawab sosial dengan melaksanakan program CSR yang langsung dirasakan masyarakat, seperti beasiswa, pembangunan rumah ibadah, dukungan kegiatan kepemudaan, program Bundo Kanduang, serta penguatan sektor pertanian.
Sementara itu, Kapolres Solok Arosuka AKBP Agung Pranajaya menegaskan bahwa pihak kepolisian akan menjaga keamanan masyarakat, baik yang mendukung maupun yang menolak proyek tersebut. “Semua aspirasi boleh disampaikan, namun situasi harus tetap kondusif,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Dandim 0309/Solok Sapta Raharja, yang meminta warga untuk tetap menjaga ketertiban selama proses sosialisasi berlangsung. Namun, saat pemaparan teknis oleh tenaga ahli, sebagian masyarakat kembali menyuarakan penolakan dan memicu ketegangan di lokasi. Akibat situasi yang tidak terkendali, kegiatan sosialisasi akhirnya dihentikan lebih awal. (bus)