PASAMAN BARAT, KP – Masyarakat Jorong Lubuk Landua, Nagari Aua Kuniang, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, kembali menggelar tradisi tahunan ‘Manjalang Buya’ setelah Idulfitri 1446 H. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun pada hari keenam bulan Syawal.
Tradisi ini berpusat di Surau Buya Lubuk Landua, yang sejak dahulu menjadi sentra dakwah dan tempat suluk di waktu-waktu tertentu. Surau ini tidak hanya dimanfaatkan untuk ibadah harian, tetapi juga menjadi simbol peran penting Lubuk Landua dalam sejarah penyebaran Islam di Pasaman Barat.
Acara berlangsung meriah, diawali dengan iringan jalan kaki bundo kanduang yang menjunjung jamba, diikuti oleh bupati dan wakil bupati, anggota DPRD, ninik mamak, Kerapatan Adat Nagari (KAN), alim ulama, dan tokoh masyarakat lainnya.
Asisten Pemerintahan Pemkab Pasaman Barat, Setia Bakti, yang hadir mewakili Bupati Yulianto dan Wakil Bupati M. Ihpan, menyampaikan apresiasi atas pelestarian tradisi ini oleh masyarakat Lubuk Landua.
“Atas nama pemerintah daerah, kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang terus melestarikan tradisi manjalang Buya. Ini adalah bentuk penghormatan kepada para ulama dan bukti hidupnya nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di tengah masyarakat,” ujar Setia.
“Tradisi ini harus kita wariskan kepada anak, cucu, dan kemenakan. Ia bukan hanya acara seremonial, tapi bentuk penghormatan dan upaya menjaga jati diri kita sebagai masyarakat adat yang religius,” tambahnya.
Menurutnya, tradisi manjalang Buya bukan hanya menjadi warisan budaya religius, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antar-pemimpin, tokoh adat, dan masyarakat dalam bingkai nilai-nilai Islam yang membumi. (ant)
