Wadahi Penggemar Prangko, Pengurus Daerah Filatelis DIY Dilantik

DIALOG Filateli dengan narasumber Woro Indah Widiastuti, Wing Wahyu Winarno, Yetti Martanti, dan artis film Annisa Hertami. Diskusi ini, yang dimoderatori Fajar Wijanarko, membahas tentang perkembangan filateli di era modern.

YOGYAKARTA, KP – Pengurus Daerah (PD) Filatelis DIY masa bakti 2024-2029 resmi dilantik di Hotel Harper Malioboro, Yogyakarta, baru-baru ini. Pelantikan ini dihadiri Dewan Pengawas Pengurus Pusat Perkumpulan Penggemar Filatelis Indonesia (PFI), termasuk Woro Indah Widiastuti dan GKBRAA Paku Alam atau Gusti Puteri.

PD Filatelis DIY untuk lima tahun ke depan akan dipimpin oleh Wing Wahyu Winarni sebagai Ketua, dengan Siti Khamaroel Noortjaradjati sebagai Wakil Ketua, Bambang Pamungkas sebagai Sekretaris Umum, dan Yoga Surya Perdana sebagai Bendahara.

Bidang Kesekretariatan dijabat oleh Clara Deo Kristiandari, sementara Ketua Bidang Riset dan Pengembangan adalah RM Ditra Syahrul Noor Wijayadi, dengan Ghilman Nafadza Hakim sebagai anggota. Bidang Kehumasan dipimpin oleh Nur Arifin, sedangkan Na Sri Rochmawati memimpin Bidang Pembinaan Komunitas dengan Sekar Kirana sebagai anggota.

Woro, mewakili PFI, mengungkapkan bahwa DIY memiliki sejarah penting dalam perkembangan filatelis. Pada 1991, Kota Yogyakarta menjadi tuan rumah FIAP Exco Meeting – Pertemuan Filateli Tingkat Asia Pasifik yang diabadikan dalam prangko. “Sejarah Filateli Jogja terulang kembali pada tahun 2006, ketika kami menjadi tuan rumah FIAP EXCO dan menetapkan Hari Filateli Indonesia pada 29 Maret 2006,” jelasnya.

Pada 2023, Yogyakarta meluncurkan prangko Malioboro sebagai simbol semangat untuk mengarsipkan dan mendokumentasikan kekayaan budaya kota.

Woro berharap Daerah Istimewa Yogyakarta dapat menjadi rumah bagi filateli, didorong oleh banyaknya pelajar dan pengajar yang dapat menjadi penyemangat untuk kembali aktif dalam kegiatan filatelis.

GKBRAA Paku Alam menambahkan bahwa filateli tidak terlepas dari peran pengiriman surat dan komunikasi melalui prangko. Ia menyoroti sejarah panjang filateli yang dimulai pada 29 Maret 1922, yang menjadi landasan bagi perkumpulan ini untuk berkarya dalam kompetisi di tingkat nasional maupun internasional.

“Filateli diakui dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 38 tahun 2009 tentang Pos, di mana pemerintah diberi amanat untuk mengembangkan minat mengoleksi prangko sebagai bagian dari pendidikan karakter bangsa,” ungkapnya.

Perjalanan filateli di Jogja dimulai dari maraknya pengiriman pesan oleh kaum bangsawan dan Belanda yang mengabadikan diri melalui tulisan di atas kertas. Saat ini, tantangan teknologi gadget mengharuskan kita untuk kembali menghidupkan semangat tersebut.

Ia mencatat bahwa kartu pos di Eropa dan Asia, terutama Jepang dan Taiwan, masih banyak dijumpai, sedangkan di Indonesia, keberadaan kartu pos sudah jarang. “Kartu pos bisa merekam situasi dan budaya, menjadi saksi untuk perdebatan di masa depan,” tutupnya.

Setelah acara pelantikan, diadakan Dialog Filateli dengan narasumber Woro Indah Widiastuti, Wing Wahyu Winarno, Yetti Martanti, dan artis film Annisa Hertami. Diskusi ini, yang dimoderatori oleh Fajar Wijanarko, membahas tentang perkembangan filateli di era modern. (fai)

 

 

 

 

 

 

 

Related posts

Rekayasa Lalin Pasar Raya Dimulai, Sejumlah Ruas Ditutup hingga Akhir Tahun

Pasar Tanah Kongsi Disiapkan Jadi Destinasi Gastronomi Unggulan

Lapak PKL Ditertibkan, Akses Revitalisasi Pasar Raya Padang Dibuka