PADANG PARIAMAN, KP — Selama dua hari berturut-turut, yakni Selasa (17/6) dan Rabu (18/6), warga Sumatra Barat digegerkan dengan ditemukannya sejumlah potongan tubuh manusia di aliran sungai. Hal ini menimbulkan rasa penasaran dan kekhawatiran di masyarakat lantaran kondisi jasad yang tidak utuh membuat identitas korban sulit dikenali.
Polisi langsung merespons dengan mendatangi lokasi penemuan, yaitu di kawasan Batang Anai dan Muara Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Padang. Potongan tubuh tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumbar di Padang guna menjalani otopsi dan proses identifikasi lebih lanjut.
Pada Rabu sore (18/6), Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Padang Pariaman, Iptu AA Reggy, bersama tim penyelidik sudah berada di rumah sakit, menunggu hasil pemeriksaan forensik untuk melanjutkan proses hukum. Meskipun publik mulai mencium adanya aroma tindak pidana, aparat tetap harus mengedepankan bukti kuat agar penyelidikan tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.
Dalam konteks kasus seperti ini, identitas korban menjadi elemen penting yang harus terlebih dahulu terungkap. Tanpa itu, penyelidikan akan sulit dilanjutkan karena pelaku pun tidak bisa ditentukan. Apalagi jasad ditemukan dalam keadaan tidak utuh dan sudah beberapa hari terbawa arus sungai.
Keluarga Korban Datang, Identitas Mulai Terkuak
Saat petugas masih menunggu hasil autopsi, tiba-tiba datang sepasang suami istri ke rumah sakit. Pasangan tersebut mengaku bahwa potongan tubuh itu adalah anak perempuan mereka, Septia Adinda (25 tahun), yang telah beberapa hari tidak pulang dan tidak ada kabarnya.
Beberapa saat kemudian, empat orang wanita juga datang ke rumah sakit. Mereka mengaku sebagai sahabat Septia dan menyatakan keyakinan bahwa potongan tubuh tersebut adalah teman dekat mereka.
Petugas lalu memperlihatkan foto korban kepada para saksi. Dengan nada lirih, salah satu dari mereka mengonfirmasi bahwa itu benar Septia Adinda. Keyakinan mereka semakin kuat setelah melihat cincin dan aksesori lain yang dikenakan korban, yang mereka kenal sebagai milik Septia.
Keterangan-keterangan ini menjadi petunjuk awal bagi polisi untuk memastikan identitas korban. Dengan bekal informasi tersebut, tim penyelidik langsung meningkatkan intensitas penyelidikan, termasuk menelusuri riwayat komunikasi, interaksi, dan aktivitas terakhir korban.
Pelaku Ditangkap 7 Jam Setelah Identitas Korban Terungkap
Tujuh jam pasca-kedatangan keluarga korban, tepatnya Kamis dinihari (19/6) sekitar pukul 02.00 WIB, jajaran Satreskrim Polres Padang Pariaman melakukan operasi penangkapan terhadap terduga pelaku pembunuhan mutilasi.
Target polisi adalah seorang pemuda berinisial SJ alias Wanda (25 tahun). Ia diamankan tanpa perlawanan di kediamannya di Nagari Sungai Buluah, Batang Anai, Padang Pariaman.
Wanda diketahui pernah bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan swasta. Ia mengenakan celana hitam dan kaos kuning ketika digelandang ke Mapolres untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Dalam keterangannya, Wanda mengakui telah membunuh Septia Adinda karena dendam akibat hutang piutang sebesar Rp3,5 juta yang tak kunjung dilunasi korban. Pembunuhan terjadi pada Sabtu (15/6) sekitar pukul 15.00 WIB di sebuah kebun kosong di wilayah Sungai Buluah.
Setelah menghilangkan nyawa Septia, Wanda mengaku memotong tubuh korban menjadi sepuluh bagian dan membuangnya ke aliran sungai. Namun, rencana pelaku untuk menghilangkan jejak akhirnya gagal setelah polisi berhasil mengungkap kasus ini dalam waktu singkat.
Barang bukti yang turut diamankan antara lain sebilah parang, telepon genggam, sepeda motor, serta pakaian yang dipakai pelaku saat melakukan aksi keji tersebut.
Terungkap Dua Kasus Pembunuhan Lainnya
Pengungkapan kasus ini ternyata membuka tabir dua kasus hilangnya perempuan muda setahun silam, tepatnya sejak Januari 2024. Wanda mengakui bahwa dirinya juga telah membunuh Siska Oktavia Rusdi alias Cika (23 tahun) dan Adek Gustiana (24 tahun).
Jasad kedua korban dimasukkan oleh pelaku ke dalam sumur tua di belakang rumahnya. Petugas gabungan berhasil mengevakuasi kedua jenazah tersebut pada Kamis pagi (19/6), disaksikan oleh banyak warga yang penasaran.
Sayangnya, evakuasi ini menyisakan duka mendalam. Nila Yusnita, ibu dari Siska Oktavia, meninggal dunia di lokasi akibat serangan jantung setelah memastikan putrinya telah tiada. Sebelumnya, sang ayah juga telah meninggal dunia akibat stres memikirkan nasib anaknya yang hilang selama hampir setahun.
Penyelidikan Masih Berlanjut
Meski pelaku telah ditangkap dan menjalani pemeriksaan intensif, status hukum Wanda belum ditetapkan sebagai tersangka hingga Jumat (20/6). Hal ini disampaikan langsung oleh Kapolres Padang Pariaman, AKBP Ahmad Faisol Amri.
“Saat ini pelaku masih dalam status terperiksa. Kami tidak ingin gegabah. Semua bukti harus lengkap agar proses hukum dapat berjalan sesuai aturan,” ujar AKBP Ahmad Faisol Amri.
Tim penyidik terus mengumpulkan keterangan saksi, memperkuat bukti fisik, serta meneliti kemungkinan adanya korban atau motif lain yang terkait dengan pelaku. Hasil pemeriksaan forensik juga sedang diteliti di laboratorium dengan bantuan tim Inafis Polda Sumatera Barat.
Polisi berjanji akan memberikan informasi lengkap kepada publik setelah semua rangkaian penyelidikan selesai dan status hukum pelaku dapat ditetapkan secara sah.
Duka Mendalam bagi Keluarga dan Masyarakat
Kasus mutilasi dan pembunuhan tiga perempuan muda ini menyisakan luka yang mendalam bagi keluarga korban maupun masyarakat luas. Di media sosial, banyak warganet menyampaikan simpati, doa, dan keprihatinan atas tragedi yang menimpa Septia Adinda, Siska Oktavia, dan Adek Gustiana. Peristiwa ini juga menjadi pengingat betapa pentingnya penegakan hukum yang cepat dan transparan, serta perlunya perhatian ekstra terhadap keamanan dan kesehatan mental masyarakat. (ant)
