Home » Warga Sijunjung Akhirnya Dapat Dipulangkan ke Tanah Air

Warga Sijunjung Akhirnya Dapat Dipulangkan ke Tanah Air

JADI KORBAN PERDAGANGAN ORANG DI MYANMAR

Redaksi
A+A-
Reset

SIJUNJUNG, KP – Walah satu Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Myanmar, Muhammad Husni Sabil (28 tahun) akhirnya dapat dipulangkan ke tanah air. Sabil adalah warga Kabupaten Sijunjung.

Kepulangan Sabil disampaikan orangtuanya, Dewi Murni (46 tahun). Murni mengatakan, anaknya telah sampai di Jakarta pada Kamis malam (25/5). Ia merasa sangat bersyukur atas kepulangan anaknya itu.

“Sabil sampai sekitar pukul 21.30 WIB di Jakarta. Ia dikawal langsung oleh Bareskrim. Saya juga telah dikasih tahu terkait kepulangan anak saya itu,” kata Dewi Murnis, dikutip dari langgam.id, Jumat (26/5).

Namun, Sabil masih belum bisa diberangkatkan ke Sijunjung karena pemerintah Indonesia belum mengeluarkan jadwal keberangkatan ke kampung halamannya.

“Sebenarnya hari ini (kemarin – red) bisa sampai ke kampung, tapi harus memakai dana pribadi. Karena keterbatasan dana kami, Sabil menunggu jadwal dari pemerintah,” ujarnya.

Murni menambahkan, terkait proses pemulangan anaknya, ia belum mengetahui secara pasti. Ia berharap dalam waktu dekat dapat melihat anaknya secara langsung.

Ia dan keluarganya telah mendapatkan tawaran dari Pemkab Sijunjung untuk memfasilitasi kepulangan anaknya. Namun sampai saat ini ia masih menunggu tindak lanjut tawaran tersebut.

Murni mengatakan, ke depan ia tidak akan mengizinkan lagi anaknya bekerja di luar daerah. Ia mengaku sangat trauma atas kejadian itu. Murni berharap anaknya bisa bekerja di kampung halaman dan tidak berniat kembali untuk merantau keluar daerah.

Murni mengungkapkan, Sabil sebelumnya tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai pemain sinetron figuran. Anaknya bisa sampai di Myawady, Myanmar setelah mengikuti ajakan temannya.

“Katanya ada teman yang sama-sama pemain figuran sinetron di Jakarta mengajak bekerja ke Thailand dengan gaji Rp12 juta per bulan,” kata Dewi.

Korban pun berangkat ke Myanmar bersama 19 orang lainnya dari Jakarta pada November 2022.

“Tidak ada rasa curiga, sebelum berangkat katanya sempat tes interview. Dia (Sabil) masih menggunakan KTP Sijunjung, pasport dan seluruhnya diurus perusahaan,” sebut ibu empat anak tersebut.

Namun bukannya ke Thailand, korban malah dibawa ke Myawady, Myanmar.

“Mungkin karena polos, anak saya tidak tahu kalau ternyata sudah sampai di Myanmar. Bulan pertama bekerja di sana anak saya sempat mengirim uang, begitu juga bulan kedua tapi jumlahnya tidak sama,” ujarnya.

Kata Dewi, anaknya dipaksa bekerja sebagai ‘scammer’ online yang merupakan modus penipuan.

“Mereka dipaksa dan disekap, bahkan disiksa kalau tidak mau bekerja. Mereka juga diancam kalau berani buka mulut. Itu terjadi sejak Februari 2023,” katanya.

Ia mengaku putus komunikasi dengan anaknya sejak 21 April 2023 bertepatan dengan momen lebaran.

“Kami sesama pihak keluarga punya grup WA dengan 20 keluarga korban lainnya. Korban terdiri dari berbagai daerah. Dari situ kami terus memantau kondisi mereka,” kata Murnis. (lgm/mas)

Jangan Lewatkan

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?