PADANG, KP — Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Mercubaktijaya sukses melaksanakan kegiatan bertema “Upaya Peningkatan Life Skill Anak Autism Spectrum Disorder (ASD) melalui Program SENI (Singkong Enak Nambah Income)”, di SLB YPPA Kota Padang.
Program yang digelar awal November 2025 ini bertujuan meningkatkan kemandirian dan keterampilan hidup (life skill) anak dengan ASD melalui pelatihan pengolahan pangan lokal berbahan dasar singkong.
Kegiatan melibatkan 10 anak ASD beserta guru pendamping. Pemanfaatan bahan lokal yang mudah diperoleh menjadi salah satu keunggulan program ini.
Melalui pendekatan terstruktur dan ramah terhadap kebutuhan anak, peserta dilatih menguasai keterampilan praktis mulai dari mencuci, mengupas, memotong, hingga mengolah singkong menjadi aneka keripik, seperti rasa original, balado, BBQ, dan bumbu jagung.
Ketua tim pengabdian, Anggawati Imanniyah, M.Pd, menjelaskan bahwa Program SENI dirancang bukan semata mengejar hasil produk, tetapi lebih menekankan proses pembelajaran yang terarah bagi anak ASD.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus membangun kemampuan motorik, konsentrasi, dan kemandirian anak. Produk yang dihasilkan juga memiliki potensi ekonomi yang bisa menjadi bekal keterampilan jangka panjang,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, anak-anak tampak antusias mengikuti setiap tahap pembuatan keripik.
Guru pendamping dan orang tua turut mendapat pelatihan mengenai penyusunan instruksi visual, penerapan teknik task analysis, serta cara menciptakan lingkungan belajar yang aman, tenang, dan suportif bagi anak-anak dengan ASD.
Mitra kegiatan, Rini Yanti, S.Pd, menyambut baik pelaksanaan Program SENI karena dinilai memberikan dampak nyata bagi perkembangan anak sekaligus memperkuat kolaborasi antara pendidik, keluarga, dan masyarakat.
“Program seperti ini sangat dibutuhkan untuk membuka peluang bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar memiliki keterampilan yang berguna di masa depan,” tuturnya.
Program SENI diharapkan dapat menjadi model pelatihan berbasis kearifan lokal yang dapat diterapkan di berbagai daerah.
Selain berfokus pada peningkatan life skill, program ini juga membuka peluang pengembangan produk bernilai ekonomi.
Ke depan, tim pengabdian berencana memperluas kegiatan dengan menambah variasi produk serta memberikan pelatihan pemasaran sederhana agar hasil karya anak dapat dikenal lebih luas. (ak)