MAROKO, KP – Gempa dahsyat dengan kekuatan magnitudo 6,9 mengguncang Maroko, Jumat malam (8/9) pukul 23.14 waktu setempat. Gempa tersebut merupakan gempa terkuat yang pernah melanda negara di Afrika Utara itu dalam satu abad terakhir.
Pusat gempa terletak di Pegunungan Atlas, sekitar 70 kilometer (43,5 mil) selatan Marrakesh. Lokasinya juga tak jauh dari Toubkal, puncak tertinggi di Afrika Utara dan Oukaimeden, resor ski Maroko yang terkenal.
Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Maroko, hingga Minggu (9/9) sebanyak 2.000 orang lebih tewas akibat gempa bumi tersebut. Disebutkan pula sebanyak 2.059 orang terluka, termasuk 1.404 di antaranya dalam kondisi kritis. Sementara tim penyelamat berpacu dengan waktu menyelamatkan korban yang masih terjebak dalam reruntuhan bangunan.
Pemerintah Maroko mengumumkan masa berkabung selama tiga hari karena bencana ini. Bendera setengah tiang dikibarkan.
Raja Maroko, Mohammed VI memerintahkan pembentukan komisi penanganan bencana untuk rehabilitasi dan bantuan darurat. Dia menginginkan fokus pada pembangunan rumah yang hancur serta perawatan pada orang-orang terdampak, khususnya yatim dan kelompok rentan.
Raja Mohammed VI juga memerintahkan akomodasi makanan dan semua kebutuhan dasar lainnya bagi yang membutuhkan. Selain itu, dia juga membentuk rekening khusus di bank sentral untuk sumbangan bantuan.
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada masyarakat Maroko.
“Saya turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya kepada masyarakat Maroko setelah gempa tragis tersebut,” kata Presiden Jokowi melalui akun resminya di platform media sosial X (sebelumnya bernama Twitter), Sabtu malam (9/9).
Presiden Jokowi menyampaikan bahwa pikiran dan doa masyarakat Indonesia bersama para korban, keluarga korban, dan semua pihak yang terdampak bencana gempa tersebut.
Sementara, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Rabat, Maroko menyatakan, hingga saat ini tidak ada informasi yang menyebut ada Warga Negara Indonesia (Wni) yang menjadi korban gempa. Hal tersebut disampaikan setelah pihak KBRI berkoordinasi dengan otoritas setempat dan komunitas Indonesia.
“Dari sekitar 500 WNI yang menetap di Maroko, hingga saat ini tidak terdapat informasi adanya korban WNI,” ujar Direktur Perlindungan WNI Kemlu Judha Nugraha, dalam keterangan tertulis.
Judha menyebut, para Delegasi Indonesia di Marakesh yang sedang mengikuti The 10th International Conference on UNESCO Global Geoparks 2023 juga terpantau aman.
“KBRI Rabat akan terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak mengenai kemungkinan adanya WNI yang terdampak,” bunyi keterangan Judha lebih lanjut.
Bukan hanya korban jiwa, gempa Maroko juga merusak bangunan-bangunan bersejarah, serta rumah-rumah warga yang roboh atau hancur. (ant)
