PADANG PARIAMAN, KP — Setelah tiga hari pencarian, tim gabungan akhirnya menemukan jenazah Ihsan Nufikri (11), bocah yang hanyut di Sungai Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman. Jenazah korban ditemukan pada Minggu (14/12) sekitar pukul 18.10 WIB, berjarak 2,6 kilometer dari lokasi awal tenggelam.
Korban sebelumnya dilaporkan hanyut pada Jumat (12/12) di Jorong I Kompleks Palapa Saiyo, Kenagarian Sungai Buluh Selatan, Kecamatan Batang Anai. Jenazah ditemukan mengapung di sungai, sekitar 200 meter dari jembatan bandara, terseret arus deras bersama batang kayu.
Penemuan jenazah terjadi saat tim pencari dari Basarnas, BPBD, Pol Airud, serta unsur TNI dan masyarakat setempat bersiap mengakhiri pencarian karena hari mulai gelap. Pada saat itu, seorang warga yang melintas melihat sesosok jenazah hanyut di sungai dan langsung memberi tahu tim.
“Untung sempat disoraki oleh pengendara yang kebetulan lewat setelah melihat ada mayat yang hanyut. Tim langsung kembali ke sungai untuk melakukan evakuasi,” kata Komandan Tim Basarnas Padang, Endra, Minggu (14/12).
Setelah berhasil dievakuasi, tim menyerahkan jenazah kepada Bhabinkamtibmas Polsek Batang Anai. Selanjutnya, jenazah dibawa ke Puskesmas Batang Anai menggunakan ambulans.
Sebelumnya, pencarian memasuki hari ketiga dengan penyisiran dari lokasi kejadian perkara (LKP) menuju muara Sungai Batang Anai. Tim SAR dibagi menjadi tiga regu. Tim pertama menyisir sungai di sekitar LKP hingga sejauh 3 kilometer menggunakan perahu karet. Tim kedua melanjutkan penyisiran sungai dari titik tersebut hingga muara sejauh 6 kilometer. Sementara itu, tim ketiga melakukan pencarian melalui jalur darat sepanjang sekitar 3 kilometer dari LKP ke titik penyisiran.
Operasi SAR melibatkan sedikitnya enam unsur, terdiri atas 11 personel Basarnas Padang, 15 personel Pol Airud, satu Babinsa, dua perangkat nagari, serta sekitar 20 warga setempat. Sejumlah peralatan dikerahkan, antara lain mobil rescue, dua unit perahu karet bermotor, peralatan SAR air, peralatan medis, alat komunikasi, Aqua Eye, serta perlengkapan pendukung lainnya.
Endra menjelaskan, kondisi sungai menjadi kendala utama selama pencarian. “Air Sungai Batang Anai keruh dan masih banyak sisa lumpur. Ditambah cuaca hujan, sehingga menyulitkan pencarian,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, korban bersama teman-temannya sempat diperingatkan agar tidak mandi di sungai. Namun, peringatan tersebut tidak diindahkan.
Sekitar satu jam setelah peringatan itu, tim menerima informasi adanya anak hanyut saat mereka sedang menyisir Sungai Batang Anai untuk mencari korban lain yang hanyut akibat bencana di Padang Panjang.
Endra mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar aliran Sungai Batang Anai agar sementara waktu tidak beraktivitas di sungai, mengingat kondisi cuaca yang belum menentu.
“Bagi warga yang tinggal dekat sungai, mohon awasi anak-anak agar tidak mandi di sungai. Kami juga meminta masyarakat menunda aktivitas di sungai, baik mengambil pasir maupun memancing, demi keselamatan,” katanya. (stc)
