SOLOK, KP – Sekitar lima belas tahun yang lalu, Kabupaten Solok tidak hanya dikenal sebagai “Kabupaten Penghasil Padi” tetapi juga sebagai “Kabupaten Penghasil Buah Markisa”.
Julukan tersebut diperoleh karena daerah ini terkenal sebagai produsen buah markisa yang manis, terutama di daerah Alahan Panjang, Air Batumbuk, Danau Kembar, Bukit Sileh, dan Nagari Aie Dingin.
Buah Markisa menjadi ikon Kabupaten Solok karena rasanya yang lezat dan bentuknya yang unik. Selain manis, buah ini memiliki tekstur seperti jeli dengan biji-bijian yang unik dan enak dikonsumsi baik saat cuaca hujan maupun panas. Sayangnya, buah markisa saat ini sangat langka di Kabupaten Solok karena kesulitan dalam penanaman tanaman ini, sehingga banyak petani yang enggan untuk menanam dan mengembangkan buah markisa.
“Selama beberapa tahun terakhir, buah markisa sangat langka di Kabupaten Solok. Kami telah mencoba menanamnya beberapa kali, tetapi tanamannya selalu mati, sehingga kami enggan untuk menanamnya kembali,” ungkap Siyal (45), seorang warga Simpang Tanjuang Nan Ampek, kepada wartawan di Solok, Rabu (5/7).
Buah berwarna hijau kekuningan ini dapat dikonsumsi langsung atau digunakan untuk membuat minuman olahan seperti sirup dan jus.
Saat ini, jumlah petani yang terlibat dalam budidaya buah markisa dapat dihitung dengan jari.
“Sepuluh tahun yang lalu, hampir setiap petani mengembangkan buah markisa, namun sekarang di Nagari Sungai Nanam, di jorong Roimbo Data, hanya tinggal sekitar 10 orang, dan mereka pun tidak menanam dalam jumlah besar,” kata Marsal Syukur (75), seorang petani sukses di Alahan Panjang.
Marsal juga berharap agar Dinas Pertanian Kabupaten Solok memberikan pelatihan kepada petani atau kelompok tani mengenai teknik penanaman buah markisa yang baik dan cara perawatannya. “Dinas Pertanian Kabupaten Solok kurang kreatif dan tidak memiliki inovasi dalam memajukan pertanian, termasuk dalam budidaya tanaman buah markisa,” harap Marsal. Ia juga menjelaskan bahwa karena kelangkaan buah markisa, hampir setiap Minggu konsumen datang langsung untuk membeli buah markisa dari pedagang di sepanjang jalan Lubuk Selasih menuju Alahan Panjang dan Aia Dingin. Namun, seringkali mereka kecewa karena tidak mendapatkan buah markisa. Harga markisa tetap relatif stabil, sekitar Rp 20.000 hingga 30.000 per ikat, yang berisi antara 8 hingga 10 buah.
“Di pinggir jalan masih banyak tanaman buah markisa, terutama di jalan Lintas Sumatera Padang-Solok seperti di Bukit Putus dan Nagari Koto Gadang Guguk, tetapi saya curiga bahwa markisa tersebut didatangkan dari Medan,” tutur Marsal.
Menurut penelitian, buah markisa mengandung vitamin C dan baik untuk menjaga kelembapan kulit wajah selain memiliki rasa yang enak. “Buah markisa tidak hanya langka, tetapi pertumbuhannya juga semakin sulit dan tidak seperti dulu lagi. Saya juga tidak tahu apa yang salah, apakah cuaca, tanah, atau faktor lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian, misalnya oleh kantor BPTP Sumatera Barat yang berlokasi di Sukarami, bekerja sama dengan Dinas Pertanian,” tambah Marsal. Ia optimis bahwa jika tidak ada penelitian dan bantuan dari Dinas Pertanian dalam lima tahun ke depan, buah markisa asli Solok hanya akan menjadi kenangan.
Di sisi lain, Dinas Pertanian Kabupaten Solok menyatakan telah berusaha untuk membudidayakan buah markisa agar tidak punah. Mereka telah mengembangkan bibit markisa di beberapa UPTD di Kabupaten Solok.
“Untuk menjaga keberlangsungan markisa di Kabupaten Solok, kami memiliki bibit markisa di dua UPTD, yaitu Lembah Gumanti dan UPTD Lembang Jaya,” kata Kanedi Hamzah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok.
Ia juga menjelaskan bahwa setahun yang lalu, pihaknya telah menanam lebih dari 2.500 pohon markisa di daerah Sungai Nanam, Danau Kembar, dan Aia Dingin. “Meskipun dikatakan langka, dari akhir tahun 2013 hingga 2017, kami masih menghasilkan lebih dari 103.509 ton buah markisa,” tambahnya. (wan)
