Tradisi Malamang Masih Bertahan di Kabupaten Solok

SOLOK, KP – Tradisi malamang untuk menyambut Hari Raya Idul Adha, sampai saat ini masih tampak bertahan di beberapa nagari yang ada di bumi penghasil bareh tanamo, Kabupaten Solok. Meski secara umum, hampir setiap kabupaten di Sumbar masih melakukannya.

Di Kabupaten Solok sendiri, biasanya kebiasaan melamang selain untuk menyambut Ramadan, Maulid Nabi, Idul Fitri, dan juga menyambut Idul Adha.

Menurut Ketua TP PKK Kabupaten Solok, Ny. Emiko Epyardi Asda, malamang merupakan kebiasaan turun menurun yang sampai saat ini masih dipertahankan di beberapa nagari di bumi markisa. Di antara nagari yang masih terlihat mempertahankan malamang antara lain nagari Koto Gadang Guguk, Koto Gaek Guguk, Talang, Jawi-Jawi Guguk, Gantung Ciri, Batang Barus, Singkarak, Surian, Lolo, Alahan Panjang, Sungai Nanam, Cupak, Salayo, Koto Hilalang, Muara Panas, Sungai Lasi, Singkarak, Sulit Air, dan juga beberapa nagari lainnya.

“Masyarakat kita masih mempertahankan tradisi malamang untuk manjalang mintuo atau untuk menyambut tamu yang datang pada saat silaturrahmi usai melaksanakan salat Idul Adha atau lebaran,” Ny. Emiko Epyardi Asda di Kabupaten Solok, Rabu (7/6).

Dijelaskannya, meski di sebagian nagari atau rumah tangga sudah melupakan tradisi ini, namun sebagian masyarakat masih tampak mempertahankan makanan khas dan enak yang terbuat dari beras ketan dan dimasak di dalam bambu atau talang yang telah diberi santan atau bumbu lainnya serta dilapisi daun pisang dan kemudian dipanaskan di atas kayu api hingga lamang siap untuk disantap.

Hanya saja, saat ini untuk mencari bambu atau talang, sudah mulai agak sulit di beberapa nagari. Bahkan beras ketan juga sudah jarang warga yang menanam.

Sementara Ketua Forum Walinagari Kabupaten Solok, Syamsul Azwar, menilai jika tradisi malamang tidak diajarkan kepada generasi muda sejak dini, maka tradisi malamang ini akan bisa tinggal kenangan.

“Dulu semasa saya kecil, tradisi malamang hampir ada di setiap rumah tangga. Tetapi saat ini kalau kita berjalan di nagari manapun, hanya bisa dihitung orang yang membuat lamang dan ini lama-lama musnah,” terang Syamsul Azwar. (wan)

Related posts

Festival Marandang Perkuat Padang Sebagai Kota Gastronomi

Program Makan Bergizi Gratis Kembali Berjalan di Kota Pariaman

Wisatawan Mancanegara Makan Banjamba di Padang