PERBUATAN oknum perwira polisi asal Kota Padang berinisial AG sungguh sangat menciderai nama baik korp kepolisian. Ia terlibat sindikat narkoba internasional. Begitu diberitakan KORAN PADANG terbitan Sabtu (16/8).
Bahkan, AG ternyata berperan ‘kurir spesial’ gembong narkoba Fredy Pratama yang dijuluki ‘Pablo Escobar Indonesia’. Sungguh mengejutkan, memalukan, sekaligus memprihatinkan. Nama baik kepolisian yang sempat didera cobaan beberapa waktu lalu kembali diuji akibat ulah AG. Perbuatan AG ini ibarat tongkat membawa rebah. Apa boleh buat, ‘tungkek tu bana nan mambao rabah’.
Seorang oknum berbuat, malunya dirasakan orang sekampung-senagari. Kita tersentak, berkomentar pun rasanya tersendat kerongkongan mengeluarkan kata-kata yang tak tentu apa akan disebut.
Keterkibatan oknum polisi asal Sumbar dalam sindikat narkoba internasional benar-benar menyentak ke ‘ubun-ubun’ rasanya. Hal ini seakan mempertegas bahwa pemberantasan narkoba butuh gerakan maksimal tanpa henti. Sedikit saja kita lengah, kesempatan bagi sindikat narkoba untuk mencari strategi jitu.
Pengungkapan kasus sindikat narkoba oleh pihak kepolisian menandakan bahwa aparat sudah begitu maksimal gerak dan strateginya. Namun, semakin berjibaku aparat menghabisi satu sindikat, muncul lagi sindikat berikutnya. Begitu seterusnya.
Kita berharap pelaku narkoba ini, terutama pengedar dan bandarnya benar-benar diberi hukuman yang membuat jera. Membuat pelakunya menggigil ketakutan akan hukuman yang bakal diterimanya. Sehingga, tak muncul lagi pelaku-pelaku narkoba di negeri ini. Sindikat internasional pun takut bermain di negeri ini karena hukumannya sangat mengerikan. Itu yang sebenarnya kita harapkan.
Namun bagaimanapun juga, setan tak pernah mati. Buktinya, kita tak pernah mendengar ada komplek ‘pemakaman syetan’ di dunia. Setan akan berusaha membujuk manusia untuk tersesat dari jalan yang benar sampai kiamat nanti. Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa memperkuat dan memperteguh keimanan. Anti narkoba jangan di mulut saja. *
