PADANG, KP – Taekwondo cilik asal Kota Padang, Nugie Anargya Nugraha berhasil meraih prestasi membanggakan pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Taekwondo Piala Menpora tahun 2024 yang diadakan di GOR Gelanggang Remaja, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Nugie memperlihatkan medali emas yang diraihnya pada Kejurnas Taekwondo Piala Menpora RI.
Pada kejuaraan yang diikuti oleh 2.220 peserta dari berbagai kelas pertandingan itu, Nugie berhasil meraih medali emas pada nomor kyorugi (tarung) untuk kategori prakadet. Secara keseluruhan, Kejurnas itu mempertandingkan dua nomor, yakni poomsae (seni) dan kyorugi (tarung) dengan lima kategori, yakni prakadet, kadet, junior, senior, dan legend. Hebatnya, kejuaraan itu akan menjadi tolok ukur bagi atlet menuju PON XII Aceh-Sumut 2024.
Bagi Nugie, perolehan medali emas ini merupakan hal yang sangat istimewa. Pasalnya ini adalah pertama kalinya ia mengikuti kejuaraan tingkat nasional atau sekelas kejurnas. Namun ia berhasil tampil penuh percaya diri dan tidak demam panggung, bahkan langsung meraih medali emas pada turnamen debutnya itu.
Lebih luar biasanya lagi, prestasi ini diraih Nugie yang lahir 19 Desember 2015 itu hanya dalam waktu empat bulan setelah bergabung dengan Perguruan Falcon Taekwondo Fighter di Nanggalo, Kota Padang. Di sana ia berlatih rutin tiga kali seminggu setiap pukul 20.00 WIB hingga 22.00 WIB.

Nugie semasa kecil memakai sepatu khusus untuk menyembuhkan kelainan pada kakinya.
Pencapaian yang diraih murid kelas II SDN 01 Tanah Air Ulak Karang Selatan, Kota Padang itu dapat menjadi teladan dan sumber inspirasi sekaligus contoh semangat pantang menyerah bagi orang-orang. Sebab, siapa yang menyangka Nugie terlahir dengan kondisi kelainan yang didiagnosa dokter sebagai ‘metatarsus adductus’. Ya, Nugie lahir dengan kedua telapak kakinya menghadap ke atas.
Melihat kondisi sang anak, hati orang tua siapa yang tidak bersedih. Begitu pula dengan orangtua Nugie, Ade Susanti. Namun ia tidak pasrah begitu saja. Ia mengerahkan segala daya dan upaya demi kesembuhan sang putra tercinta. Sungguh berat perjuangan yang dilakukan Ade demi kesembuhan si buah hati. Tak hanya hitungan hari, minggu, atau bulanan, namun proses penyembuhan memakan waktu hingga 2,5 tahun.
Ade yang merupakan karyawan KORAN PADANG itu menceritakan bahwa perawatan Nugie dijalani di RS Bhayangkara Padang. Selama itu, Nugie harus memakai sepatu khusus yang harus diganti sekali sebulan dengan biaya Rp4 jutaan. Kemudian ganti gips seminggu sekali dengan biaya sekitar Rp600.000-an. Untuk memenuhi biaya pengobatan itu, Ade harus bekerja keras dengan melakoni berbagai pekerjaan sekaligus. Tak hanya itu, Nugie juga harus menjalani operasi sebanyak tiga kali. Beruntung, untuk biaya operasi yang memakan biaya cukup besar itu ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Nugie semasa kecil saat menjalani proses penyembuhan atas kelainan pada kakinya
Ade berharap kisah Nugie ini dapat menjadi inspirasi bagi orangtua lain, terutama yang anaknya mengalami kelainan, bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Yang penting, katanya, jangan pernah menyerah dan tetaplah semangat sembari berdoa dan berusaha, niscaya akan ada jalan keluarnya.
Ade mengaku bangga atas prestasi yang diraih Nugie, yang serius menekuni olahraga beladiri taekwondo di bawah binaan KORAN PADANG. Betapa tidak, ketika Nugie kecil dengan kelainan yang dialaminya, ia harus menghadapi perkataan-perkataan yang tidak mengenakkan dari segelintir orang, bahkan terkadang membuat hatinya sedih dan menangis. Meski demikian, Ade mengaku cukup banyak juga yang memberinya motivasi dan semangat. Sehingga, Nugie yang bercita-cita jadi dokter ortopedi itu berhasil membuat orangtuanya bangga. Kakinya yang sempat mengalami kelainan itulah yang pada akhirnya mengantarkannya meraih prestasi bergengsi: medali emas pada Kejurnas Piala Menpora RI. *

Nugie semasa kecil

Nugie semasa kecil
