BATIPUAH, TANAH DATAR — Di tengah semak yang mulai meninggi dan pagar besi yang berkarat, berdiri sebuah tugu sederhana yang menyimpan jejak awal kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar. Tugu itu adalah Tugu Kemerdekaan RI, dibangun setahun setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
Bagi sebagian orang, bangunan itu mungkin sekadar monumen tua. Namun bagi HL Dt. Indomo Marajo, tugu tersebut adalah saksi hidup perjalanan bangsa. Ia masih mengingat jelas ketika pada 17 Agustus 1946, dalam usia sekitar enam tahun, ia berjalan kaki bersama orang tuanya dari Subarang Nagari Batipuah Ateh menuju Ladang Laweh, Batipuah Baruah, menempuh jarak sekitar 10 kilometer untuk menghadiri peringatan satu tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
“Semua murid SR/SD se-Kecamatan Batipuah hadir bersama guru, wali nagari, dan wali jorong. Kami membawa nasi bungkus untuk makan siang,” kenang Ketua LKKAM Kecamatan Batipuah periode 1994–2001 itu, kepada KoranPadang.com, Selasa (24/2) di Padang.
Usai upacara, masyarakat bergerak menuju Balai Gadang untuk meresmikan Tugu Kemerdekaan yang dibangun secara gotong royong.
Dibangun dengan Semangat Kolektif
Pelopor pembangunan tugu tersebut adalah Mayor Hasnawi Karim—yang kemudian dikenal sebagai Kolonel Rohis Kodam III/17 Agustus dan pernah menjabat Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Sumatera Barat—bersama Wali Nagari Batipuah Baruah Syamsuddin Dt. Jo Nando. Pengerjaan fisiknya dilakukan oleh Uo Pak Kalek dari Suku Pisang Dt. Barbangso, sementara para pemuda seperti Jamaris Khatib Rangkayo Basa dan Jabaluddin Khatib Majo Lelo menggerakkan gotong royong masyarakat.
Tugu ini bukan sekadar penanda kemerdekaan. Pada salah satu sisinya tertulis rumusan dasar negara yang menarik perhatian:
- Ketoehanan
- Kebangsaan
- Kemanoesiaan
- Kedaoelatan Rakyat
- Keadilan sosial
Rumusan tersebut menunjukkan jejak pemikiran awal dasar negara sebelum ditetapkan secara final oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 18 Agustus 1945.
Pada sisi lain tertulis tegas:
Merdeka
Indonesia
Merdeka
17-8-1945
Tulisan-tulisan dengan ejaan lama itu menjadi bukti bahwa semangat ideologis masyarakat Batipuah saat itu begitu kuat dan sadar akan arah dasar negara.
Minim Perhatian
Sayangnya, kondisi tugu kini kurang terawat. Cat mulai memudar, pagar berkarat, dan semak belukar tumbuh di sekitarnya. Tugu yang semestinya menjadi situs sejarah lokal justru nyaris luput dari perhatian.
HL Dt. Indomo Marajo menilai generasi muda belum banyak yang tertarik mendalami makna tulisan pada tugu tersebut, termasuk perbedaan istilah seperti “kedaulatan rakyat” dan “kerakyatan”, serta perubahan susunan sila dari rumusan awal hingga menjadi Pancasila yang dikenal sekarang.
Menurutnya, tugu ini seharusnya menjadi bahan kajian sejarah lokal sekaligus sarana pendidikan kebangsaan.
“Apakah kita sudah cukup memahami dasar negara? Apakah cita-cita masyarakat adil dan makmur sudah tercapai? Pertanyaan itu kembali kepada kita bersama,” ujarnya.
Warisan Sejarah yang Perlu Dijaga
Tugu Kemerdekaan RI di Batipuah bukan hanya bangunan fisik. Ia adalah simbol gotong royong, kesadaran politik rakyat, dan bukti bahwa daerah juga memiliki peran dalam mengawal lahirnya bangsa.
Di tengah arus modernisasi, monumen seperti ini semestinya tidak hanya dikenang saat peringatan 17 Agustus, tetapi dirawat dan dijadikan sumber pembelajaran sejarah bagi generasi muda.
Jika tidak, bukan hanya cat yang memudar—melainkan juga ingatan kolektif tentang bagaimana kemerdekaan itu dirayakan dengan penuh kesungguhan dan harapan. (nda)
