Arduino Uno dan Sensor MPX5500DP Dipadukan Jadi Spirometer Portabel untuk Pendidikan

Oleh: Fauzyah Aprillia, S.Tr.T, M.Sc (Dosen Radiologi Universitas Baiturrahmah)

by Ahmad Kharisma
A+A-
Reset

Teknologi mikrokontroler semakin membuka peluang pengembangan perangkat medis berukuran ringkas untuk kebutuhan pendidikan. Salah satunya terlihat pada pengembangan spirometer portabel yang memadukan sensor tekanan dengan mikrokontroler Arduino Uno.

Penelitian ini mengembangkan spirometer menggunakan MPX5500DP pressure sensor, Arduino Uno, dan Nextion Display.

MPX5500DP digunakan untuk mendeteksi perubahan tekanan yang berkaitan dengan aliran udara pernapasan. Sementara itu, Arduino Uno berfungsi sebagai pusat pengolahan sinyal dan perhitungan parameter.

Data yang telah diproses kemudian dikirimkan ke Nextion Display untuk ditampilkan dalam bentuk angka dan grafik.

Arsitektur sederhana tersebut menjadi salah satu keunggulan dari sisi pendidikan. Mahasiswa dapat melihat secara lebih terbuka hubungan antara perangkat keras dan hasil pengukuran.

Pada sistem medis komersial, pengguna biasanya hanya melihat hasil akhir pada layar. Sementara itu, bagian internal sistem sering kali tidak mudah diamati oleh mahasiswa.

Dalam prototipe yang dikembangkan, komponen utama dapat dipelajari satu per satu. Mahasiswa dapat mengenali fungsi sensor, mempelajari proses akuisisi sinyal, memahami pemrosesan menggunakan mikrokontroler, hingga melihat bagaimana data akhirnya ditampilkan.

Spirometer tersebut dirancang untuk menghasilkan sejumlah parameter fungsi paru, termasuk FVC dan FEV₁ serta rasio FEV₁/FVC.

Pengembangan juga mempertimbangkan aspek kalibrasi. Syringe dengan volume acuan digunakan untuk menguji pengukuran perangkat. Setiap kondisi diuji sebanyak lima kali dalam lingkungan laboratorium.

Kalibrasi menjadi bagian penting karena mahasiswa dapat diperkenalkan pada konsep error, akurasi, repeatability, dan verifikasi alat.

Konsep tersebut sangat relevan dalam pendidikan instrumentasi medis. Sebuah alat tidak cukup hanya menghasilkan angka. Hasil pengukuran perlu dipahami kualitasnya dan dibandingkan dengan acuan yang sesuai.

Dalam penelitian ini, prototipe lebih diarahkan sebagai learning medium atau media pembelajaran. Perangkat belum diposisikan sebagai alat diagnostik klinis.

Peneliti juga menegaskan bahwa penelitian berikutnya perlu menguji aspek pendidikan secara lebih sistematis.

Dengan demikian, pengembangan spirometer berbasis Arduino ini menjadi contoh bagaimana teknologi elektronika yang relatif mudah dipahami dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan prinsip kerja instrumentasi medis kepada mahasiswa. *

Apakah berita ini bermanfaat?
Ya0Tidak0