PENGEMBANGAN spirometer portabel berbasis teknologi digital membuka peluang baru dalam pemeriksaan fungsi paru. Tidak lagi sekadar menghasilkan angka pengukuran, perangkat yang dikembangkan melalui penelitian Fauzyah Aprillia dan tim dari Universitas Baiturrahmah ini dirancang untuk menampilkan data fungsi paru secara langsung melalui layar digital.
Prototipe menggunakan sensor tekanan MPX5500DP dan Arduino Uno untuk menangkap serta mengolah perubahan tekanan akibat hembusan napas. Data tersebut kemudian diproses menjadi parameter fungsi paru seperti Forced Vital Capacity (FVC), Forced Expiratory Volume in One Second (FEV1), dan rasio FEV1/FVC, sebelum ditampilkan melalui layar Nextion berukuran 3,5 inci.
Penggunaan layar digital menjadi salah satu bagian penting dari pengembangan ini. Hasil pemeriksaan dapat ditampilkan dalam bentuk angka sekaligus grafik, sehingga informasi yang dihasilkan perangkat menjadi lebih mudah dipantau. Sistem juga dapat menampilkan nilai prediksi berdasarkan karakteristik pengguna seperti usia, jenis kelamin, dan tinggi badan.
Ke depan, konsep tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh. Data pemeriksaan tidak harus berhenti pada layar perangkat, tetapi berpotensi disimpan sebagai riwayat pemeriksaan dan ditransmisikan secara digital. Penelitian juga merekomendasikan pengembangan komunikasi nirkabel dan penyimpanan data sebagai bagian dari peningkatan sistem.
Jika dikembangkan lebih lanjut, konsep ini berpotensi mendukung monitoring fungsi paru dari jarak jauh, misalnya dengan mengirimkan hasil pemeriksaan ke perangkat lain atau sistem penyimpanan data. Namun, kemampuan tersebut masih merupakan potensi pengembangan, bukan fitur monitoring jarak jauh yang telah diuji dalam penelitian saat ini.
Hasil penelitian awal menunjukkan bahwa prototipe mampu melakukan pengukuran volume dengan cukup baik. Pengujian menggunakan syringe kalibrasi 1 liter menghasilkan rata-rata 0,994 liter dengan error 1,00 persen, sedangkan pengujian 3 liter menghasilkan rata-rata 2,992 liter dengan error 0,67 persen.
Meski demikian, perjalanan menuju alat yang dapat digunakan secara klinis masih membutuhkan sejumlah tahapan. Peneliti merekomendasikan pengujian dengan lebih banyak titik volume, pengulangan yang lebih banyak, serta perbandingan langsung dengan spirometer klinis terkalibrasi, khususnya untuk memastikan kinerja FEV1 dan rasio FEV1/FVC.
Dengan demikian, masa depan spirometer portabel bukan hanya tentang membuat perangkat menjadi lebih kecil. Tantangan berikutnya adalah bagaimana alat dapat menjadi lebih akurat, mudah digunakan, mampu menyimpan data, terhubung secara digital, dan pada akhirnya mendukung pemantauan kesehatan secara berkelanjutan.
Penelitian ini menjadi langkah awal dalam menunjukkan bahwa teknologi elektromedik dapat mengubah hembusan napas menjadi data digital yang informatif. Dari sebuah sensor tekanan dan mikrokontroler, terbuka peluang menuju perangkat pemeriksaan fungsi paru yang semakin terintegrasi dengan teknologi digital.
Namun, sebelum sampai pada penggunaan klinis maupun monitoring jarak jauh, validasi dan pengujian lebih lanjut tetap menjadi tahapan utama untuk memastikan keamanan, keandalan, dan akurasi perangkat. *