LIMAPULUH KOTA, KP — Minimnya dukungan anggaran bagi pelaku seni tradisi dalam dua tahun terakhir menjadi perhatian anggota DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky. Melalui reses masa sidang III tahun sidang 2025–2026, ia menyerap aspirasi kelompok seni tradisi yang tetap bertahan dan berkarya di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
Reses tersebut dipusatkan di Jorong Sawahlaweh, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, kawasan perbatasan Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Tanah Datar, baru-baru ini. Di lokasi itu, Fajar berdialog dengan dua kelompok seni tradisi, yakni Tambua Tansa Bintang Saiyo dan Randai Cindua Mato.
Kelompok Tambua Tansa Bintang Saiyo yang dipimpin Zaki dan dilatih Armen Koto beranggotakan hampir 40 orang. Mayoritas anggotanya merupakan generasi muda yang aktif melestarikan seni tradisional Minangkabau.
Menurut Armen, kelompok tersebut tidak hanya menjadi tempat berlatih tambua tansa, talempong, dan tari, tetapi juga wadah pembinaan karakter generasi muda.
“Di Bintang Saiyo kami tidak sekadar berlatih tambua tansa, bermain talempong, dan menari. Kami juga menanamkan nilai kejujuran, disiplin, setia kawan, serta menjauhkan generasi muda dari penyalahgunaan narkoba,” ujarnya.
Ia mengatakan Bintang Saiyo kini menjadi salah satu kelompok tambua tansa dengan jumlah anggota terbanyak di wilayah Sumatera Barat bagian utara. Kelompok itu juga memiliki ciri khas dengan menghadirkan lantunan selawat dalam setiap penampilannya.
Selain menemui kelompok tambua tansa, Fajar juga berdialog dengan Kelompok Randai Cindua Mato yang berkembang di bawah binaan Sanggar Seni Lubuak Putiah. Kelompok tersebut beranggotakan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia, sebagai upaya menjaga regenerasi seni tradisi Minangkabau.
Menurut tokoh kelompok, H. AM Dt Bandaro Kuniang, kesenian Randai Cindua Mato telah berkembang di Nagari Tungkar sejak sebelum Indonesia merdeka dan terus dipertahankan hingga kini sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat.
Fajar berharap kelompok-kelompok seni tradisi di Limapuluh Kota tetap konsisten berkarya meski dukungan pemerintah daerah masih terbatas akibat efisiensi anggaran.
“Saya berharap pelaku seni tradisi tetap berkarya dan terus berproses kreatif. Seni tradisi memiliki peran penting dalam membangun karakter masyarakat dan menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai budaya di tengah perubahan zaman,” katanya.
Ia juga mendorong Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota agar memberi ruang lebih besar bagi pengembangan kebudayaan sesuai arah pembangunan daerah. Menurutnya, meski sektor kebudayaan bukan termasuk Standar Pelayanan Minimal (SPM), pemerintah tetap perlu memberikan dukungan melalui penyediaan sarana dan prasarana, fasilitasi festival, paket kesenian, serta pelatihan bagi pelaku seni tradisi. (dst)
Have any thoughts?
Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!